MENYETUBUHI KOPI Sore ini gerimis turun lagi. Dingin dan hangat berpadu menghasilkankan sebuah kekuatan hipnotis yang menegakkan bulu roma. Sendi-sendi kokohku perlahan kian melemas. Tunduk akau dalam sendiri, kaku tertelan di kedalaman diam. Pacu adrenalinku seolah menghilang, mati tak berdaya. Keseimbangan otak kiri - otak kanan yang selama ini kuandalkan lunglai dalam ketakberdayaan. Mataku menatap kosong pada pigura bening di hadapanku. Ia kabur berlumur bercak-bercak bening hujan terciprat. Antara sadar dan setengah sadar, tanganku mulai menggerayangi lekuk mulus cangkir itu. Ada cairan pekat hangat beruap memikat. Aroma khasnya menggelitik menusuk-nusuk kedua rongga hidungku. Ruang jangkau penglihatanku terkurung dalam kilau-kemilaunya yang tak terkatakan. Ia menurut saja mengikuti gerak perlaha...