MENTARI 7 Pagi Aku terpaku tegak melekat pada salah satu kokoh tiang di ruang makan itu. Dari celah jeruji jendela sebelah timur sinar binar mentari tujuh pagi mereyap hangat, memendar di atas putih pigura. Aku tidak terpikat sinar itu. Dia menyilaukan lembab dan redup pagiku. Satu persatu tubuh-tubuh kokoh melangkah masuk. Kaku, membisu, dingin tanpa ekspresi. Masing-masing menempati posisi di belakan kursi trsusun rapi. Ada yang tertunduk beku mentap meja bersusun menu sarapan pagi. Mengapa tak mau duduk? Rupanya kursi-kursi itu belum penuh bertuan. Kita masih harus menunggu, hingga kursi terduduk penuh. Sesosok tua berkaca mata bening menyusup masuk menempati kursi di ujung ruangan. Dia berputih uban, bersimbah kerut-keriput lemak. Sorot matanya memancarkan kebijaksanaan usang. Semua patuh padanya. Aku masih saja paku melekat pada tiang tembok ruangan itu. Mengapa lama sekali? “In Nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancti............ Amen!!!!!” Baris-baris puisi magi...
SELAMAT DATANG Hanya berbagi imaginasi agar tak mati dibunuh waktu