Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label rohani

Makna ikon dalam Gereja Katolik

KEAGUNGAN TUHAN DALAM IKON Pengantar             Manusia adalah makhluk berbudaya. Manusia mengekspresikan dirinya melalui kebudayaan yang ia miliki. Demikian pula halnya dalam pengungkapan imannya. Manusia mengungkapkan imannya juga dalam kebudayaannya. Iman pertama-tama memang berkaitan dengan hubungan antara manusia dan Tuhan. Tetapi manusia hidup bersama orang lain di tengah masyarakat. Hidup sosialnya turut menentukan hidup imannya. “Allah menyelamatkan orang-orang bukannya satu per satu, tanpa hubungan satu dengan lainnya”(LG 9). [1] Boleh dikatakan bahwa manusia menjawab wahyu Tuhan dengan sosialitasnya, dengan kebudayaannya, dan dengan kemampuannya. Salah satu produk kebudayaan manusia adalah seni. Manusia mengekspresikan imannya melalui kesenian yang diciptakannya. Gereja katolik tidak bisa terpisahkan dari seni. Hal itu tampak dalam bangunan (seni lukis, seni pahat, dan seni ukirnya), lagu-lagu atau musik ger...

Rahasia Rosario

Mawar Ketuju (Sebuah komentar atas tulisan St. Montfort dalam “Rahasia Rosario”) Mahkota Mawar     Pada bagian mawar ketuju ini St. Montfort membagikan kekayaan tentang rosario dengan ilustrasi berupa cerita-cerita dari beberapa orang kudus. Cerita-cerita itu mungkin adalah cerita-cerita yang berkembang pada masa itu. Tidak mengherankan jika St. Montfort mengisahkannya dengan singkat-singkat. Diandaikan bahwa pembaca bukunya ini pada masa itu sudah mendengar atau setidaknya mengetahui cerita-cerita tentang keajaiban rosario itu. Jika kita mencermati cerita-certita ini dari sudut pandang pemikiran kita dewasa ini, kebanyakan cerita yang disampaikan bergaya “seperti mitos-mitos”. Agak  sulit diterima akal sehat atau cara berpikir kita dewasa ini. sebut saja cerita yang disamapaikan dalam Mawar Ketuju ini, misalnya tentang Beato Alan, Bruder Alfonsus Rodriques, dan Kisah Santo Fransiskus.     Sepintas kita melihat bahwa memang kisah-kisah itu adalah kisa...

MENTARI 7 Pagi

MENTARI 7 Pagi Aku terpaku tegak melekat pada salah satu kokoh tiang di ruang makan itu. Dari celah jeruji jendela sebelah timur sinar binar mentari tujuh pagi mereyap hangat, memendar di atas putih pigura. Aku tidak terpikat sinar itu. Dia menyilaukan lembab dan redup pagiku. Satu persatu tubuh-tubuh kokoh melangkah masuk. Kaku, membisu, dingin tanpa ekspresi. Masing-masing menempati posisi di belakan kursi trsusun rapi. Ada yang tertunduk beku mentap meja bersusun menu sarapan pagi. Mengapa tak mau duduk? Rupanya kursi-kursi itu belum penuh bertuan. Kita masih harus menunggu, hingga kursi terduduk penuh. Sesosok tua berkaca mata bening menyusup masuk menempati kursi di ujung ruangan. Dia berputih uban, bersimbah kerut-keriput lemak. Sorot matanya memancarkan kebijaksanaan usang. Semua patuh padanya. Aku masih saja paku melekat pada tiang tembok ruangan itu. Mengapa lama sekali? “In Nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancti............ Amen!!!!!” Baris-baris puisi magi...

MAWAR DAN ROSARIO

MAWAR MERAH dan ROSARIO 1.    Pengantar Dalam riwayat hidup St. Montfort kita mengetahui bahwa sejak usia kanak-kanaknya ia sangat mencintai doa rosario. Dalam salah satu kisah, diceritakan bahwa ia menjadi rasul Bunda Maria bagi saudara-saudari dan teman-teman sepermainannya. Ia sering mengajar dan mengajak mereka berdoa rosario. Seorang adiknya yang bernama Guyonne-Jeanne pernah merasa bosan berdoa rosario bersamanya, saat itulah ia berkata kepada adiknya: “Kalau kamu berdoa rosario kamu akan menjadi cantik sekali.” Dari kisah ini kita dapat melihat dengan jelas keintiman relasi Montfort dengan Rosario. Dalam buku Rahasia Rosario St. Montfort mengulas banyak hal tentang Rosario. Dalam penjelasan-penjelasan yang disampaikan Montfort, ia menjelaskan Rosario dengan analogi bunga mawar. Tulisan kecil ini mencoba mendalami bagaimana penjelasan St. Montfort dalam judul Mawar Merah. Kita akan mulai dengan melihat sesuatu di luar teks tentang bunga mawar dalam sejarah. L...

Rohani

“CANGKIR KOPI” ALLAH Tuhan datang kepadanya dan menjadi hamba; Sabda datang kepadanya dan membisu dalam rahimnya Petir datang kepadanya dan tidak bersuara Sang gembala datang kepadanya menjadi domba yang menangis tanpa bersuara. Sebab rahim Maria membalikkan peranan-peranan. Pencipta segala sesuatu masuk kaya, tetapi lahir miskin. Sang Maha Agung masuk ke dalamnya, tetap dengan rendah hati. Cahaya masuk ke dalamnya, namun dibungkus lampin hina. Dia yang memberi makan segala sesuatu, mengenal rasa lapar. Dia yang memuaskan segala dahaga, mengenal kehausan. Telanjang dan tak berdaya, Ia lahir daripadanya. Ia yang mendandani segala sesuatu. Himne de Nativitate 11: 6-8, St. Efrem dari Syria.             Maria itu ibarat secangkir kopi. Cangkirnya, bukan kopinya. Ia layaknya sebentuk cangkir putih polos, cantik, indah, lagi antik.Saking antiknya, ia tidak pernah sembarang dipamerkan ...

100 malam

1000 Malam Seribu malam sudah, bahkan lebih. Awalnya,,,, kau begitu hangat mendekap kalbu, begitu dekat, erat kudekap hadirmu bahagiakanku, banggakanku dalam tawa,,, karena kau kupunya Seribu malam sudah, bahkan lebih. Rasa-rasanya bosan juga dengan putihmu seakan puas aku dalam jenuh lelah dan lemasku Hangatmu jadi gerahku di terik siang jalan ini lembutmu jadi perihku di lumur bening butir keringat ini Itukah kau? Seribu malam sudah, bahkan lebih juga hangatmu nyenyakkanku dalam lelap statusquo nyaman dalam dekap kemapanan senang juga aku punyamu… Itukah kau? ah,,, entah sampai kapan jalan ini akan berujung sempurna Mencapai titik finish pilihan diri… Setidaknya kau beriku satu kesempatan : menata diri dalam refleksi tuk terus menyusur jejak Sang ilahi

Sinopsis film DES HOMMES ET DES DIEUX dari ilmu Metafisika

DES HOMMES ET DES DIEUX “Aku” di Pinggiran Eksistensi Pengantar “Bagaimana kau tahu kau sedang jatuh cinta?” “Itu dalam dirimu yang menjadi hidup karena kehadiran seseorang. Ia tidak bisa ditutupi dan membuat jantungmu berdetak kencang. Itu adalah daya tarik, keinginan, itu sangat indah. Tidak ada gunanya bertanya terlalu banyak, itu terjadi begitu saja. Semua seperti biasanya, lalu tiba-tiba kegembiraan datang, atau sebuah pengharapan.” Cinta memang sesuatu yang indah. Dari padanya datang kegembiraan dan pengharapan. Sepenggal dialog singkat di atas merupakan petikan percakapan Bruder Luke dengan seorang gadis Palestina yang sedang gundah hati karena pengalaman cintanya. Rupanya cinta itu juga tidak hanya membawa kebahagiaan, tetapi juga kegundahan, pertanyaan, dan kebimbangan karena harus memilih. “Pernah jatuh cinta?” “Beberapa kali, dan aku merasakan cinta yang lain, bahkan yang lebih besar. Dan aku menjawab cinta itu. Sudah cukup lama. Lebih dari enam puluh tahun...