Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label santo montfort

MAWAR DAN ROSARIO

MAWAR MERAH dan ROSARIO 1.    Pengantar Dalam riwayat hidup St. Montfort kita mengetahui bahwa sejak usia kanak-kanaknya ia sangat mencintai doa rosario. Dalam salah satu kisah, diceritakan bahwa ia menjadi rasul Bunda Maria bagi saudara-saudari dan teman-teman sepermainannya. Ia sering mengajar dan mengajak mereka berdoa rosario. Seorang adiknya yang bernama Guyonne-Jeanne pernah merasa bosan berdoa rosario bersamanya, saat itulah ia berkata kepada adiknya: “Kalau kamu berdoa rosario kamu akan menjadi cantik sekali.” Dari kisah ini kita dapat melihat dengan jelas keintiman relasi Montfort dengan Rosario. Dalam buku Rahasia Rosario St. Montfort mengulas banyak hal tentang Rosario. Dalam penjelasan-penjelasan yang disampaikan Montfort, ia menjelaskan Rosario dengan analogi bunga mawar. Tulisan kecil ini mencoba mendalami bagaimana penjelasan St. Montfort dalam judul Mawar Merah. Kita akan mulai dengan melihat sesuatu di luar teks tentang bunga mawar dalam sejarah. L...

Rohani

“CANGKIR KOPI” ALLAH Tuhan datang kepadanya dan menjadi hamba; Sabda datang kepadanya dan membisu dalam rahimnya Petir datang kepadanya dan tidak bersuara Sang gembala datang kepadanya menjadi domba yang menangis tanpa bersuara. Sebab rahim Maria membalikkan peranan-peranan. Pencipta segala sesuatu masuk kaya, tetapi lahir miskin. Sang Maha Agung masuk ke dalamnya, tetap dengan rendah hati. Cahaya masuk ke dalamnya, namun dibungkus lampin hina. Dia yang memberi makan segala sesuatu, mengenal rasa lapar. Dia yang memuaskan segala dahaga, mengenal kehausan. Telanjang dan tak berdaya, Ia lahir daripadanya. Ia yang mendandani segala sesuatu. Himne de Nativitate 11: 6-8, St. Efrem dari Syria.             Maria itu ibarat secangkir kopi. Cangkirnya, bukan kopinya. Ia layaknya sebentuk cangkir putih polos, cantik, indah, lagi antik.Saking antiknya, ia tidak pernah sembarang dipamerkan ...

100 malam

1000 Malam Seribu malam sudah, bahkan lebih. Awalnya,,,, kau begitu hangat mendekap kalbu, begitu dekat, erat kudekap hadirmu bahagiakanku, banggakanku dalam tawa,,, karena kau kupunya Seribu malam sudah, bahkan lebih. Rasa-rasanya bosan juga dengan putihmu seakan puas aku dalam jenuh lelah dan lemasku Hangatmu jadi gerahku di terik siang jalan ini lembutmu jadi perihku di lumur bening butir keringat ini Itukah kau? Seribu malam sudah, bahkan lebih juga hangatmu nyenyakkanku dalam lelap statusquo nyaman dalam dekap kemapanan senang juga aku punyamu… Itukah kau? ah,,, entah sampai kapan jalan ini akan berujung sempurna Mencapai titik finish pilihan diri… Setidaknya kau beriku satu kesempatan : menata diri dalam refleksi tuk terus menyusur jejak Sang ilahi