Langsung ke konten utama

Makna ikon dalam Gereja Katolik


KEAGUNGAN TUHAN DALAM IKON


Pengantar
            Manusia adalah makhluk berbudaya. Manusia mengekspresikan dirinya melalui kebudayaan yang ia miliki. Demikian pula halnya dalam pengungkapan imannya. Manusia mengungkapkan imannya juga dalam kebudayaannya. Iman pertama-tama memang berkaitan dengan hubungan antara manusia dan Tuhan. Tetapi manusia hidup bersama orang lain di tengah masyarakat. Hidup sosialnya turut menentukan hidup imannya. “Allah menyelamatkan orang-orang bukannya satu per satu, tanpa hubungan satu dengan lainnya”(LG 9).[1] Boleh dikatakan bahwa manusia menjawab wahyu Tuhan dengan sosialitasnya, dengan kebudayaannya, dan dengan kemampuannya. Salah satu produk kebudayaan manusia adalah seni. Manusia mengekspresikan imannya melalui kesenian yang diciptakannya. Gereja katolik tidak bisa terpisahkan dari seni. Hal itu tampak dalam bangunan (seni lukis, seni pahat, dan seni ukirnya), lagu-lagu atau musik gereja, pakaian perayaannya, ritus-ritus dan sebagiannya. Semua itu tampil dalam suatu nilai seni yang sangat tinggi.
            Manusia bisa saja mengekspresikan imannya dengan berbagai mahakarya seni  yang bernilai tinggi menurut ukuran kemanusiaannya, tetapi di dalamnya masih tetap tersisah suatu ruang keterbatasan. Ruang keterbatasan tersebut adalah ruang pengenalan yang lengkap akan keagungan Allah. Manusia tidak akan bisa secara sempurna mencapai pemahaman yang penuh akan Tuhan dalam hidupnya. Tetapi justru dalam keterbatasannya itu manusia berusaha untuk semakin dekat dengan Allah. Ikon dalam Gereja katolik adalah salah satu perwujudan dari usaha manusia untuk semakin dekat dengan Allah dalam keterbatasan manusiawinya. Ikon dalam Gereja katolik biasanya berupa gambar Kristus, Bunda Maria, atau orang-orang kudus. Ikon-ikon tersebut dibuat dan diletakkan di tempat khusus untuk dihormati. Penghormatan tersebut tentunya tidak ditujukan kepada gambar tersebut, tetapi kepada tokoh yang digambarkan dalam ikon tersebut. Ikon di sini sungguh sesuatu yang bernilai teologis. Melaluinya setiap umat beriman dapat merasa semakin dekat dengan Allah dan bersatu dalam persekutuan dengan para kudus. Atas dasar itu, tulisan kecil ini mencoba menggali bagaimana peranan ikon dalam Gereja katolik dalam mengungkapkan keagungan Allah. Pertama-tama kami ingin menggali sedikit tentang pengertian dan kesejarahan ikon dalam Gereja. Kemudian kami akan mendalami keagungan Allah diungkapkan dalam ikon dan ditutup dengan kesimpulan.

Sekilas Pengertian dan Sejarah Ikon                            
Secara etimologis ikon berasal dari bahasa Yunani: eikon,  yang berarti lukisan atau gambar[2]. Dalam tradisi kristiani, ikon diartikan sebagai gambar kudus, yang dapat berupa mozaik atau pahatan pada marmer, kayu, logam, atau lukisan pada kanvas atau cetakan pada kertas. Sedangkan ilmu untuk membuat dan mempelajari ikon adalah ikonografi.[3] Ikon tidak sama dengan gambar atau foto-foto pada umumnya. Coraknya begitu unik, sama sekali tidak menampilkan sesuatu secara real jika dilihat dalam cara pandang biasa. Bentuk, ukuran, dan warnanya tidak realistis. Tanpa latar belakang khusus, orang mungkin tidak akan mengenal siapa atau apa sebenarnya yang digambarkan dalam ikon tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu cara pandang atau pemahaman khusus untuk melihat ikon.
Dalam tradisi kristiani, ikon mulai dikenal pada abad ke-4, di gereja-gereja Timur. Penghormatan terhadap ikon-ikon berkembang dengan pesat. Akan tetapi, perkembangan ini terganggu tatkala umat beriman melakukan penghormatan yang berlebihan terhadap ikon-ikon tersebut yang mengarah pada penyembahan berhala. Kenyataan ini terjadi pada tahun 726-843 di kekaisaran Bizantin. Akibatnya, muncul gerakan penghancuran ikon-ikon (ikonoklasme). Pada tahun 730, Kaisar Leo III, yang memerintah sisa-sisa Kekaisaran Romawi bagian Timur, memerintahkan pemusnahan ikon-ikon yang merupakan bagian dari tradisi liturgi Timur. Tindakannya itu didasari oleh penekanan yang berlebihan terhadap ke"Ilahi"an Kristus tanpa didasari penafsiran dan pemaknaan yang kuat. Hal ini mengarah kepada tindakan berhala. Upaya ikonoklasme ini kemudian dikutuk oleh Bapa Suci di Roma, dan pada tahun 787. Melalui Konsili Nicea dikeluarkan pernyataan: “Karena, semakin sering seseorang merenungkan gambar-gambar kudus ini, semakin sukacita ia dibimbing untuk merenungkan pribadi asli yang mereka wakili, semakin pula ia ditarik kepadanya dan diarahkan untuk memberinya … penghormatan yang khidmad…” Karena “penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar menyangkut gambar asli di baliknya” (St. Basilius), dan “siapa yang menghormati gambar, menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya.”[4]
Penghormatan terhadap ikon kembali berjalan baik ketika umat beriman sadar dan tidak melakukan penghormatan berlebihan terhadap gambar-gambar suci. Saat ini ikon-ikon tersebar di seluruh dunia, bukan saja di gereja-gereja Timur tetapi juga di dalam gereja katolik Roma. Ikon dalam Gereja katolik biasanya berupa gambar Yesus, Bunda Maria, Allah Tritunggal, para  kudus dan gambar suci lainnya. Ikon-ikon tersebut bisa membantu umat beriman dalam berjumpa dengan pribadi-pribadi suci yang berada di baliknya. Namun pergerakan ikonoklasme ini muncul lagi dalam gerakan Protestan dengan menyingkirkan altar, memusnahkan karya-karya seni religius, dan menghapus semua dekorasi yang ada dalam bangunan gereja. Mereka melakukan tindakan ini di banyak gereja yang jelas-jelas dulunya adalah Gereja Katolik. Yohanes Calvin dari Prancis yang merupakan pelopor dari gerakan Reformasi Protestan (Calvinisme), secara khusus ia menekankan bahwa penghormatan kepada para kudus merupakan karya setan dan penghormatan kepada patung dan gambar-gambar kudus merupakan penyembahan berhala. Serangan-serangan Calvin menyebar juga di kalangan Presbyterian, Dutch Reformed, Huguenot, Baptist, dan kaum Puritan. (bahkan kaum Amish sampai sekarang menganggap foto orang-orang yang dikasihi sebagai penyembahan berhala).[5]

Keagungan Tuhan dalam Ikon
            Secara struktur bangunan Gereja katolik banyak dilengkapi atau bahkan diidentikkan dengan berbagai simbol. Salah satu jenis simbol yang digunakan adalah gambar-gambar berupa ikon. Kenyataan ini selain menunjukkan nilai religius yang tinggi dan kemegahan Gereja, juga tidak sedikit menuai pandangan miring terhadapnya. Muncul pertanyaan-pertanyaan yang mungkin kedengaran agak aneh bagi orang katolik, tetapi menjadi pertanyaan penting bagi orang di luarnya. Apalagi pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari umat sesama agama Kristen. Misalnya, “apakah penghormatan terhadap ikon-ikon itu tidak melanggar sepuluh perintah Allah? Dalam perintah pertama jelas-jelas dikatakan: Jangan memuja berhala, berbaktilah kepadaKu saja....” Ada juga yang berkata bahwa penghormatan terhadap ikon itu sangat-sangat tidak biblis, hal itu bertentangan dengan Kel 20: 2-5, “Akulah TUHAN, Allahmu, Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya”. Bagaimana mungkin orang katolik bisa membuat gambar dari Tuhan yang belum pernah mereka lihat? Lebih khusus lagi berkaitan dengan ikon: kalau kita melihat ikon,corak/modelnya sangat-sangat tidak real, asing dan tidak bisa memberikan gambar yang jelas seperti foto atau gambar biasa. Bagaimana bisa orang katolik menghormati ikon sebagai sebagai sesuatu yang kudus?
            Semua pertanyaan-pertanyaan dan pandangan di atas tentunya berasal dari pemahaman yang berbeda terhadap ikon. Latar belakang mereka tentu berbeda dengan pemahaman yang melatarbelakangi umat katolik dan Gereja timur tentang ikon yang mereka hormati. Tetapi di atas semua itu, pertanyaan-pertanyaan seperti di atas sebenarnya bisa menjadi pendorong bagi kita untuk mendalami makna ikon. Pemahaman yang jelas dan lengkap tentang ikon akan memudahkan kita menjawab atau lebih tepatnuya mempertanggungjawabkan iman kita terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang iman kita.
            Ikon yang dihormati dan dipandang suci dalam Gereja katolik sesungguhnya bukan merupakan suatu berhala. Penghormatan ikon juga tidak tanpa pendasaran teologis. Hanya saja yang terjadi dan cukup memprihatinkan adalah bahwa apa yang telah terjadi pada abad-abad silam kadang terjadi lagi dalam penghayatan iman umat katolik saat ini. Misalnya penghormatan yang berlebihan terhadap benda-benda rohani baik karena disengaja atau karena ketidaktahuan. Penyimpangan-penyimpangan seperti itu tentunya patut mendapat penjelasan dan pelurusan pemahaman tentang iman yang benar. Dasar dari penghormatan kita terhadap ikon-ikon sebenarnya adalah Perjanjian Baru. Penghormatan terhadap ikon yang dipandang sebagai pelanggaran terhadap sepuluh perintah Allah terjadi karena penafsiran yang hanya terbatas pada dasar dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama memang wajah Allah itu tidak pernah dilihat oleh manusia. Tetapi melalui kehadiran Yesus dalam Perjanjian Baru, wajah Allah ditampakkan kepada manusia dalam wajah Yesus Kristus yang menjadi manusia. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1: 14). Selanjutnya dikatakan, “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah, tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1: 18). Hal itu ditegaskan pula oleh St. Yohanes dari Damaskus bahwa, “Pada mulanya Allah, yang bukan badan, bukan juga rupa, tidak dapat dilukiskan sama sekali melalui gambar. Tetapi sekarang, setelah Ia kelihatan dalam daging dan hidup bersama manusia, aku dapat membuat satu gambar dari apa yang aku lihat dari Allah…. Kita memandang kemuliaan Tuhan dengan wajah tak terselubung.”[6]
            Selanjutnya berkaitan dengan pandangan terhadap ikon yang dikatakan sebagai gambaran yang tidak realis dan sulit dipahami. Justru di sinilah letak keagungan Tuhan yang terungkap dalam ikon-ikon. Agus Cremers mengatakan kurang lebih demikian: “Ikon bukan gambaran dunia realita yang tampak pada kita. Ikon adalah jendela terbuka untuk yang Kudus yang Abadi yang tampak.”[7] Bahwa apa yang digambarkan dalam ikon bukan merupakan realitas dunia sehari-hari dengan berbagai kesibukan manusia. Melalui ikon yang tidak real manusia melihat Allah, demikian pula sebaliknya. Ikon bagaikan sebuah jendela di mana kita dapat melihat ketenangan surgawi. Melalui jendela yang sama juga para penghuni surga memandang kesibukan, kesedihan dan kelemahan kita manusia. Justru ketika orang mempunyai kesan aneh pada saat yang sama sebenarnya ia tertarik pada ikon. Sebagai jendela keabadian ia menampakkan keilahian. Ikon akhirnya terlihat aneh/lain karena melaluinya tampak “Yang Lain”. Maka ia mengundang orang untuk mengangkat hati dan membawa kita masuk ke dalam misteri kehadiran Yang lahi.
            Lebih lanjut Agus Cremers menjelaskan karakter/corak ikon yang mengungkapkan kamahaagungan Tuhan. Menurtnya, sedikitnya ada lima corak ikon yang menggambarkan keagungan Tuhan.[8]
a.         Corak dua dimensi (rata). Tidak ada ikon yang bercorak tiga dimensional plastis. Ikon  dilukiskan dengan corak linear dan abstrask, misalnya gambar orang yang dilukiskan secara anonim, umum, tanpa kepribadian. Hal ini mau menunjukkan sesuatu yang luhur, tenang, stabil, surgawi. Dengan cara ini perspektif manusiawi dibalikkan menjadi perspektif ilahi, sehingga ikon seakan-akan tidak dibuat oleh tangan manusia. Ikon memasukan kita ke alam abadi dan transenden yang tidak biasa dan tidak kodrati. Corak tiga dimensional, plastis-bulat, biasanya berkaitan dengan dunia profan kodrati yang hidup di dunia. Yang dua dimensional (rata) itu menandaskan sifatnya yang transenden, yang surgawi dan suci.
b.        Dalam ikon tidak terdapat perspektif kedalaman seperti ilusi ruang “alamiah” yang biasa terdapat sejak zaman renaisance Barat. Ruang yang digambarkan pada ikon bercorak rata. Latar belakangnya biasa berwarna emas, hal itu mau menampakan aura surgawi yang bersinar sekitar orang kudus atau subjek yang digambarkan. Dari dalam ruang transenden ini tokoh-tokoh kudus seolah-olah datang dari dalam dunia rohani. Ruang transenden bisa dirasakan dalam perspektif terbalik itu. Artinya garis-garis yang berkaitan dengan ruang tidak lagi bertemu pada mata manusia yang melihat (seperti dalam perspektif renaisance) tetapi dipindahkan ke titik pertemuan transenden di belakang gambar, yaitu ke dalam mata ilahi. Ini menyebabkan umat yang sementara berdoa merasa seakan-akan dipandang melalui jendela oleh mata Allah dari dalam raung surgawi. Justru karena perspektif ilahi yang terbalik itu tokoh-tokoh manusia pada bagian depan ikon sering dilukiskan labih kecil seakan mereka berada jauh dari pandangan perspektif ilahi dari belakang raung transenden. Dengan demikian ada kesan bahwa umat berada dalam pandangan keabadian (sub specie aeternitatis).
c.         Tokoh-tokoh suci yang digambarkan biasanya dilukiskan secara frontal, wajah mereka biasanya menghadap umat. Pandangan frontal itu menghasilkan suatu hubungan langsung yang tak terelakkan antara orang beriman dan tokoh suci itu. Sehingga ikon dialami sebagai penampakan dan wahyu dari tokoh yang transenden dan abadi. Keabadian itu selalu menampakan diri, langsung berhubungan dengan manusia.
d.        Corak seakan tanpa waktu. Hal ini mau mengungkapkan tidak adanya dinamika, seperti tidak terjadi apa-apa. Dengan itu, umat seakan masuk dalam waktu abadi yang berlangsung terus (dalam suatu nunc stans). Dalam ikon ada ketengangan wajar, suatu perasaan keabadian yang tetap, yang mengangkat dan melepaskan dari dalm waktu yang selalu berubah, yang duniawi.
e.         Ikon juga dilukiskan dalam keadaan berseri. Seakan-akan terang ilahi bersinar dari dalam melalui tokoh itu, terutama melalui wajah dan tangannya. Seolah ia memilki cerminan tabor  yang mulia atau terang semak duri yang menyala. Dari dalam ikon memancar terang batiniah yang berseri, pancaran teang surgawi.

Penutup
            Tidak bisa dimungkiri bahwa kehadiran ikon-ikon dalam Gereja menimbulkan banyak keheranan dan komentar miring yang dilontarkan oleh orang-orang yang berasal dari luar maupun dari dalam Gereja sendiri. Hal ini tidaklah mengherankan karena sudah sejak awal perkembangannya ikon dalam Gereja telah menimbulkan kontroversi. Ujung dari kontroversi tersebut bahkan menimbulkan sebuah perintah dari otoritas Gereja dan tindakan pemusnahan terhadap ikon (ikonoklasme). Dalam sejarah juga kita mengetahui bahwa kontroversi tersebut telah diselesaikan dengan pembaharuan pandangan-pandangan yang keliru dalam Gereja katolik. Meskipun pembaharuan tersebut belum/tidak berlaku dalam beberapa gereja reformasi. Mereka masih beranggapan bahwa penghormatan atau penempatan ikon-ikon dalam gereja sebagai tindakan berhala. Dengan demikian tidaklah mengherankan jika muncul begitu banyak pertanyaan atau komentar-komentar yang terkadang bersifat menyerang dari mereka. Meskipun demikian, Gereja katolik tetap mempunyai penghayatan dan berpegang pada pendasarannya akan keberadaan dan penghormatan ikon dalam gereja. Bagi Gereja katolik, penghormatan terhadap ikon bukan ditujukan secara langsung kepada ikon itu sendiri, tetapi kepada sesuatu yang ilahi yang berada di balik ikon tersebut. Yang terpenting adalah sikap hati-hati dari umat agar tidak jatuh pada penghayatan yang salah. Konsili Vatikan II menegaskan hal itu dalam SC 125: “Kebiasaan menempatkan gambar-gambar atau patung-patung kudus dalam gereja untuk dihormati oleh kaum beriman hendaknya dilestarikan. Tetapi jumlahnya jangan berlebih-lebihan, dan hendaknya disusun dengan laras, supaya jangan terasa janggal oleh umat Kristiani, dan jangan memungkinkan timbulnya devosi yang kurang kuat.”[9]




















DAFTAR PUSTAKA

Cremers, Agus. Maria dalam Seni Rupa Kristiani. Maumere: Lembaga Pembentukan Berlanjut Arnold Jansen. 2000.

Dokumen Konsili Vatican II, Sacrosanctum Consilium Konsitusi Tentang Liturgi Suci, Jakarta: DokPen KWI, 1990, hlm.48.

Heuken, A., SJ. Ensiklopedi Gereja. Jakarta: Cipta Loka Caraka. 1992.

Konferensi Wali Gereja Indonesia. Iman Katolik. Jakarta: OBOR. 1996.

Maryanto, Ernest. Kamus Liturgi Sederhana. Yogyakarta: Kanisius. 2004.


Sumber Internet:






[1] Bdk. Iman Katolik, Konferensi Wali Gereja Indonesia, Jakarta: OBOR, 1996, hlm. 165.
[2]A. Heuken, SJ, Ensiklopedi Gereja, Jakarta: Cipta Loka Caraka, 1992, hlm. 67.
[3] Ernest Maryanto, Kamus Liturgi Sederhana, Yogyakarta: Kanisius, 2004, hlm.76.
[5] Ibid.
[6] Ibid.
[7] Agus Cremers, Maria dalam Seni Rupa Kristiani, Maumere: Lembaga Pembentukan Berlanjut Arnold Jansen, 2000, hlm. 30-31.
[8] Bdk. Ibid. hlm. 31-32.
[9] Dokumen Konsili Vatican II, Sacrosanctum Consilium Konsitusi Tentang Liturgi Suci, Jakarta: DokPen KWI, 1990, hlm. 48.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Dongeng Manggarai Timur, Mbo' Ete

MBO’ ETE             Teringat sepotong dongeng (tombo nengon) masa kecil yang sangat menarik tentang Mbo’ Ete (Nenek Ete) . Terjemahan dalam bahasa Indonesianya kira-kira seperti berikut: “Pada zaman dahulu hiduplah seorang nenek bernama Ete (Mbo’ Ete). Ia hidup sendirian dan hanya ditemani dua ekor anjing [1] kesayangannya. Pada suatu hari ia mendapat undangan dari Mbunga dan Ndilan untuk mengikuti acara ‘rebo’ anak’ mereka (pemberian nama seorang anak) yang juga merupakan cucunya. Mbunga dan Ndilan tinggal di langit. Konon, kala itu jarak antara langit dan bumi masih sangat dekat. Buktinya sampai sekarang ‘betong’ (pohon bambu) melengkungkan pucuknya ke bawah karena tidak bisa lagi bertumbuh ke atas. ‘Doong le langit’ (pertumbuhannya tertahan oleh langit). Langit dan bumi hanya dihubungkan oleh ‘wase azo’’ (sejenis pohon bertali di hutan). Sampai pada hari yang ditentukan, pergilah Mbo’ Ete ke lagit ditemani kedua ekor ...

MAWAR DAN ROSARIO

MAWAR MERAH dan ROSARIO 1.    Pengantar Dalam riwayat hidup St. Montfort kita mengetahui bahwa sejak usia kanak-kanaknya ia sangat mencintai doa rosario. Dalam salah satu kisah, diceritakan bahwa ia menjadi rasul Bunda Maria bagi saudara-saudari dan teman-teman sepermainannya. Ia sering mengajar dan mengajak mereka berdoa rosario. Seorang adiknya yang bernama Guyonne-Jeanne pernah merasa bosan berdoa rosario bersamanya, saat itulah ia berkata kepada adiknya: “Kalau kamu berdoa rosario kamu akan menjadi cantik sekali.” Dari kisah ini kita dapat melihat dengan jelas keintiman relasi Montfort dengan Rosario. Dalam buku Rahasia Rosario St. Montfort mengulas banyak hal tentang Rosario. Dalam penjelasan-penjelasan yang disampaikan Montfort, ia menjelaskan Rosario dengan analogi bunga mawar. Tulisan kecil ini mencoba mendalami bagaimana penjelasan St. Montfort dalam judul Mawar Merah. Kita akan mulai dengan melihat sesuatu di luar teks tentang bunga mawar dalam sejarah. L...