“CANGKIR KOPI” ALLAH
Tuhan datang kepadanya
dan menjadi hamba;
Sabda datang kepadanya
dan membisu dalam rahimnya
Petir datang
kepadanya
dan tidak bersuara
Sang gembala
datang kepadanya
Sebab rahim Maria
membalikkan peranan-peranan.
Pencipta segala sesuatu
masuk kaya, tetapi lahir miskin.
Sang Maha Agung masuk ke dalamnya,
tetap dengan rendah hati.
Cahaya masuk ke
dalamnya,
namun dibungkus
lampin hina.
Dia yang memberi makan segala sesuatu, mengenal rasa lapar.
Dia yang memuaskan segala dahaga, mengenal kehausan.
Telanjang dan tak berdaya,
Ia lahir daripadanya.
Ia yang mendandani segala sesuatu.
Himne de Nativitate 11: 6-8, St. Efrem dari Syria.
Maria itu ibarat
secangkir kopi. Cangkirnya, bukan kopinya. Ia layaknya
sebentuk cangkir putih polos, cantik, indah, lagi antik.Saking antiknya, ia
tidak pernah sembarang dipamerkan pada sebuah etalase mewah dimana semua orang
dapat melihat dan mengaguminya. Ia tersembunyi jauh di balik peti benda-benda
berharga. Tetapi, entah kenapa suatu hari Tuhan tertarik untuk menggunakannya
lagi. Tuhan jadi teringat lagi bagaimana dahulu Ia menyimpannya dengan penuh
kehati-hatian karena begitu sayangnya ia akan cangkir cantik itu. Ia tersenyum,
menyadari kembali bagaimana berharganya cangkir itu bagiNya. Ia mengankat dan
memandangnya dalam-dalam. Sekali lagi Ia tersenyum mengingat bagaimana Ia
dahulu menuangkan cairan madu manis ke dalamnya. Madu yang Ia sendiri suguhkan
untuk manusia umatNya, yang sangat Ia cintai. Begitu cinta dan sayangnya Ia
akan manusia ciptaanNya. Ia makin lebar tersenyum ketika berpikir betapa
tergila-gilanya Ia saat itu karena cintaNya akan manusia. Betapa tidak, ia
sampai mengingkari hakikatnya sendiri dalam apa yang disebut manusia sebagai Actus Purus. Kalau mau konsisten, Ia yang
disebut sebagai kesempurnaan sejati tidak bisa masuk dalam ketidaksempurnaan
manusia. Ia begitu tersipu ketika dahulu Aristoteles dan pengikut-pengikutnya
pernah mencegatnya dengan sebuah argumen: “Tuhan,
Engkau melanggar logika. Apakah Tuhan tidak memperhatikan rambu rasionalitas?
Bagaimana mungkin Engkau yang adalah Actus Purus, yang tidak tercampur
sedikitpun oleh potentia, bisa ambil bagian dalam ketidaksempurnaannya?
Jelas-jelas ini adalah sebuah pelanggaran rasionalitas.” Tuhan cuma
berpikir, “pintar benar ya, manusia-manusia
ini?” Tetapi Ia tidak begitu mempedulikan ocehan ciptaanNya yang istimewa
itu. “Ah, kamu Ris, ngawur ae…. masakan
Aku harus kamu atur-atur menurut logikamu?” Tuhan bergumam sendiri dalam
hatiNya.“Kalau Aku Cinta, ya Cinta, tidak
pake setengah-setengah. Agnes Monika aja bilang kalo cinta itu kadang tak ada
logika.”
Memang ada begitu
banyak konsekuensi yang harus ditanggungNya ketika itu. Ada yang sampai menggelar
demo besar-besaran, membuat huru-hara di jalanan dan pusat kota memprotes
kebijakan yang diambilNya untuk datang ke dunia sebagai manusia. “Memang manusia itu, ada-ada saja. Itu aja
kok repot. Bagaimana mereka bisa mengatakan bahwa Aku yang adalah Substansi
murni jika menjadi manusia akan berbenturan
dengan kualitas dan kuantitas? Padahal Akulah kualitas dan kuantitas itu
sendiri.”Tuhan hampir meledakkan tertawaNya ketika mengingat kembali
kekonyolan-kekonyolan manusia ciptaanNya. Tapi setidaknya Tuhan juga sadar
bahwa rasionalitas manusia adalah bukti nyata dari sabdaNya dahulu kalau semua
apa yang Ia ciptakan adalah baik. Ya, baik sejauh yang ia ciptakan tentunya. Karena
memang sekarang hatinya sedang gundah gulana melihat tingkah ciptaanNya,
terutama ulah ciptaan yang dikerjakan sebelum hari istirahat itu.
Lalu Ia berpikir
sejenak. “Madu manis, yang tidak lain
adalah PuteraKu sendiri, yang dahulu Aku tuangkan dalam cangkir ini dan aku
persembahkan untuk keselamatan manusia itu? Dia sedang bdrkarya dalam dunia
sekarang, sebagai manusia. Bagaimana Aku melanjutkan kemanisanNya sepanjang
masa? Aku tidak boleh sampai dikritik lagi karena ketidaksesuaianKu dengan
logika manusia. Sebenarnya aku bisa saja langsung menyelamatkan sendiri manusia
itu. Aku bisa langsung mengilahikan mereka dengan Aku menghendakinya saja. Ah,
Aku harus menggunakan cangkir cantik ini lagi. Tetapi sayang, yang harus Aku
tuangkan adalah kopi, yang adalah manusia-manusia fana yang harus mencapa
keserupaan denganKu. Sayang, cangkir cantikKu ini harus kesakitan menahan panas
air yang dituangkan ke dalamnya. Ia akan dikotori gumpalan gula cair yang akan
melengket pada sisi dalamnya. Belum lagi pekat hitam ampas kopi itu nanti akan
mengotori hampir sekujur tubuhnya. Tapi itu harus terjadi, ia telah berpasrah
pada kehendakKu.”
Ah,,,itu hanya
sekelabat imaginsi yang terlintas dan kebetulan sempat terrekam dalam kata-kata
yang terbatas ini. Yang jelas peristiwa kenangan “penuangan madu” itu hampir
tiba. Aku sedang menanti ditemani secangkir kopi hangat di mendng dingin sore
hari penatku. Masih ada sisa-sisa embun pada rerumputan taman selepas hujan
deras siang tadi. Secangkir kopi. Ia begitu setia dan kesetiaannya tidak lebih
setia dari kesetiaan Sang Bunda Maria menemaniku selama ini dan selama
peziarahan ini.


Komentar
Posting Komentar