Langsung ke konten utama

Postingan

BANGA

Suatu senja di halaman kampung sulit. Ditemani kopi hangat dan sepiring ubi rebus kami menikmati semilir sejuk senja itu dengan obrolan santai di depan rumah. Perhatian kami seakan ditarik oleh tingkah sekelompok anak yang sedang asyik bermain di halaman kampung. Ada pekik seru gembira, umpat mengumpat, berseloroh, dan perdebatan kecil. Mereka sedang bermain memperebutkan seonggok biji kemiri yang berjajar dari tengah garis bundar di atas debu. Banga’, suatu jenis permainan khas anak-anak kampung. Permainan klasik yang memuat beribu bahasa kebijaksanaan hidup. Ada kreativitas, persaingan, perjuangan, sportivitas, dan kerja sama. Mula-mula setiap anggota mengumpulkan biji-biji kemiri ke tengah lingkaran, masing-masing sesuai dengan jumlah yang telah disepakati bersama. Permainan dilanjutkan dengan persaingan melempari kemiri-kemiri di tengah lingkaran menggunakan satu biji kemiri yang disebut “nde’n” (induk). Masing-masing anggota hanya berhak melakukan sekali lemparan yang dimulai ...

GALAU

di ujung sepi ini kau menghantuiku mengikutiku hingga peti mati      Indah...      kau jarah kebebasanku      kau renggut bahagiaku      kau hempas pastiku      ke jurang dilema indah... kau butakan binar tatapku kau robek peka jangatku jernih akalku kau lumpur keruh sungguhkah itu dirimu???

PADA SEBUAH TIMBA

Perigi ini mahligaiku kepala berpayung mentari kaki beralas maut      membuai menggelantung      tertawa menangis pada timba ini      menari aku di liuk temali hingga sumur bergetar gelora meluap air dari perut dalam temaliku meliuk lentur       jerit aku menahan takut       hardik aku melepas gentar maut tak beranjak kaku aku di pinggir timba        ada malaikat kecil berparas rembulan mengulur tangan        menarik timba menghempasku ke surga  

TANYA

mataku perih terkadang melihat indah itu telingaku pekak mendengar indah itu     lidahku kelu     kulitku mati     tak kuasa kubernafas     di mata indah itu ah, sebenarnya aku hanya sedang bingung entahkah itu semu atau nyata entah asli atau palsu     esensial     artifisial     halusinasi     mimpi??? INDAH kau buatku bertanya     

BAHAGIA

Saat ia datang binar bola mata menyuarakan suka     saat ia terrenggut     sembab mengering     air mata lara apa itu bahagia? derita di balik serakah? entah.....

DIAM

Kini diam itu bersuara tapi bukan dengan lidah yang tak tahu apa kata hati         kini diam itu menjerit         bukan dengan kata         yang tak mengerti         bisik suara jiwa diam, menjerit dalam derita meratap dalam nestapa berbahasa dalam realita bukan logika manusia

INDAHMU ANONIM

           Menggantung rindu di lembut buibirmu Menuai tawa di hitam rambutmu tuk selamanya memeluk harum indah tubuhmu, Kaukah Dewi Cinta?          cukup sekali saja lagi          bisakah kau kembali?          biar kuungkap rasa ini          dari bisik nada seserpih jiwa          di kelana cinta ingin kupanggil namamu mungkinkah? indah dirimu  getarkan lunglai langkhku binarkam sayu tatapku         apa harus kubuang senyum ini          tuk simpan teduh bibirmu         di serak nafasku? kau adalah keindahan di kering tawaku bidadari di khayangan khayalku malaikat di lelap mimpiku        Indah....        kau terlalu jauh di dekatku        terlalu benderang di te...
Sanpio: Me and My Friends  Action on the Stage Cool in the morning......... Ora et Labora.... The beauty of Sanpio Sanpio from Poco Lando

Menantimu

di sudut diam ini, kunanti.... yang tak mau datang kembali. di sudut diam ini, kutunggu.... yang tak mau menyapaku.   andai kau tahu  termenung aku di sini bersama mimpi menemani dingin di hati namun, malam tak kunjung usai mimpi tetaplah mimpi membeku  bersama tetesan putih ini kuterus bersimpuh bersama samudera tak bertuan

Cerita Pendek: Diam

  DIAM             “………Tahukah engkau wahai mentari, hari ini di bawah bias hangatmu aku tersenyum hambar, menari ngawur menuruni lembah luas tak bertepi. Di atas harmoni putaran dua roda  hitam bergulir,  aku berlari kecil mengejar padang  hijau kehidupan tak bertuan nun jauh di bukit sana. Kembang senyuman sebutir kemilau embun di balik daun itu seakan menyapaku ramah dalam sebaris puisi “selamat pagi.” Aku terus berlari, kudengar jerit debu jalanan merontah entah sakit entah geli terlindas dua putaran roda hitamku. Semilir sejuk seakan tak enggan menatapku tajam, entah terkejut entah kagum akan laju sepedaku menyibak udara di hari baru ini. Ringkik pongah dua pedal di ujung ayunan tungkaiku mengontrol pergerakan rantai, berputar menggesek sepasang gerigi logam berlumuran cairan hitam. Menetes membuntutiku melukis lajur-lajur hitam mengotori aspal jalanan.             ...

CERPEN: Poster Dinding

POSTER Berderak bunyi gagang pintu kamarku karena kubuka terburu-buru. Tanpa melepas sepatu kuliah kesayanganku,  yang aromanya tak bisa berkompromi lagi, aku berlari memasuki kamarku seperti orang kebelet pipis. “Huh…….!” gumamku sambil menghempaskan diri di atas kasur. Belum, dan memang bukan saatnya untuk tidur, tapi yah bergitulah, aku merasa begitu lelah sekali hari ini. Tidak seperti biasanya. Dengan keringat yang masih membasahi hampir sekujur tubuhku, tatapanku menyapu kosong ke arah dinding putih kamarku. Terhirup sisa aroma parfum murahan yang kupakai pagi tadi, berpadu menciptakan keseimbangan yang unik dengan aroma keringat dan kaus kaki bekasku yang tergeletak begitu saja di balik daun pintu. Indera ciumku telah terbiasa dengan aroma khas yang memenuhi ruangan kecil tempat aku menghabiskan sebagian waktuku ini. Terkadang memang aku membuka jendela lebar-lebar sekadar menetralisasi udara kamar 107 ini dengan sedikit udara segar. “Ah, lupakan saja soal aroma itu.” ...