Langsung ke konten utama

BANGA

Suatu senja di halaman kampung sulit. Ditemani kopi hangat dan sepiring ubi rebus kami menikmati semilir sejuk senja itu dengan obrolan santai di depan rumah. Perhatian kami seakan ditarik oleh tingkah sekelompok anak yang sedang asyik bermain di halaman kampung. Ada pekik seru gembira, umpat mengumpat, berseloroh, dan perdebatan kecil. Mereka sedang bermain memperebutkan seonggok biji kemiri yang berjajar dari tengah garis bundar di atas debu. Banga’, suatu jenis permainan khas anak-anak kampung. Permainan klasik yang memuat beribu bahasa kebijaksanaan hidup. Ada kreativitas, persaingan, perjuangan, sportivitas, dan kerja sama.
Mula-mula setiap anggota mengumpulkan biji-biji kemiri ke tengah lingkaran, masing-masing sesuai dengan jumlah yang telah disepakati bersama. Permainan dilanjutkan dengan persaingan melempari kemiri-kemiri di tengah lingkaran menggunakan satu biji kemiri yang disebut “nde’n” (induk). Masing-masing anggota hanya berhak melakukan sekali lemparan yang dimulai oleh anggota dengan jarak lemparan terjauh. Ia akan mendapatkan hak untuk melakukan lemparan kedua jika ia berhasil mengeluarkan salah satu atau beberapa biji (wini) kemiri dari dalam lingkaran. Wini yang keluar akan menjadi miliknya. Demikian seterusnya mereka harus berjuang mengeluarkan wini sebanyak-banyaknya. Banga’ berarti salah satu aggota berhasil mengeluarkan salah satu atau beberapa wini dan nde’n tetap berada dalam lingkaran. Jika demikian, maka permainan satu putaranpun akan selesai dan semua wini yang masih tersisa dalam lingkaran akan menjadi miliknya. Permainan bisa dilanjutkan dengan memulai babak baru sesuai keputusan bersama. Pupus (habis) adalah sebutan untuk anggota yang kalah dan kehilangan semua kemirinya. Pupus juga berarti bahwa ia kehilangan haknya untuk bergabung lagi dalam permainan karena ia tidak punya kemiri lagi untuk dikumpulkan. Polo’ adalah gelar yang diberikan kepada pemain yang lihai dan berhasil menguasai banyak kemiri dari teman-temannya.
Hidup adalah permainan. Siapapun di dunia ini sesungguhnya sedang bermain dan akan terus bermain selama ia masih berpijak di atas dunia. Kita bermain dalam arus kemajuan dunia yang melaju kian hari kian pesat. Kemajuan sebagai suatu kenyataan yang tak bisa dimungkiri oleh siapapun yang masih ingin bertahan. Ibarat sebuah permainan banga’: yang berkualitas yang memnguasai, yang terampil yang menjadi juara. Ada persingan yang tidak bisa juga disebut sebagai sesuatu yang negatif. Bersaing dalam permainan yang telah pakem dengan seperangkat aturan baku. Ketika kita memutuskan untuk masuk dalam sebuah permainan diandaikan bahwa kita tahu, mengerti dan mampu menerima dan menjalani semua aturan dalam permainan tersebut. Kompetensi, skill, trik-trik, dan kelihaian bermain menjadi sesuatu yang penting dan sangat dibutuhkan. Hanya itulah satu-satunya saenjata ampuh untuk meraih kemenangan. Lalu, dari mana diperoleh semua itu?
“Jaga banga’ lata!” (Jangan sampai dikuasai orang lain). Hanya melalui pendidikan kita bisa mengasah kompetensi, trik, dan keterampilan bermain dan menguasai permainan. Bermain dalaam arus pesat kemajuan dunia, bermain dalam arus deras persaingan setiap bidang kehidupan. Polo’, jika kita mampu bersaing, menguasai teknik dan cara bermain yang baik. Jaga banga’ lata! Sebuah realitas Banga’, hanya memberikan dua kemungkinan: “Kita akan terlempar ke luar lingkaran tempat kita berasal atau kita tetap di dalam lingkaran tetapi jatuh ke dalam genggaman kekuasaan orang lain. Kita dikuasai orang lain. Dan akhirnya kita harus menerima kenyataan akhir sebagai orng yang Pupus!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Dongeng Manggarai Timur, Mbo' Ete

MBO’ ETE             Teringat sepotong dongeng (tombo nengon) masa kecil yang sangat menarik tentang Mbo’ Ete (Nenek Ete) . Terjemahan dalam bahasa Indonesianya kira-kira seperti berikut: “Pada zaman dahulu hiduplah seorang nenek bernama Ete (Mbo’ Ete). Ia hidup sendirian dan hanya ditemani dua ekor anjing [1] kesayangannya. Pada suatu hari ia mendapat undangan dari Mbunga dan Ndilan untuk mengikuti acara ‘rebo’ anak’ mereka (pemberian nama seorang anak) yang juga merupakan cucunya. Mbunga dan Ndilan tinggal di langit. Konon, kala itu jarak antara langit dan bumi masih sangat dekat. Buktinya sampai sekarang ‘betong’ (pohon bambu) melengkungkan pucuknya ke bawah karena tidak bisa lagi bertumbuh ke atas. ‘Doong le langit’ (pertumbuhannya tertahan oleh langit). Langit dan bumi hanya dihubungkan oleh ‘wase azo’’ (sejenis pohon bertali di hutan). Sampai pada hari yang ditentukan, pergilah Mbo’ Ete ke lagit ditemani kedua ekor ...

MAWAR DAN ROSARIO

MAWAR MERAH dan ROSARIO 1.    Pengantar Dalam riwayat hidup St. Montfort kita mengetahui bahwa sejak usia kanak-kanaknya ia sangat mencintai doa rosario. Dalam salah satu kisah, diceritakan bahwa ia menjadi rasul Bunda Maria bagi saudara-saudari dan teman-teman sepermainannya. Ia sering mengajar dan mengajak mereka berdoa rosario. Seorang adiknya yang bernama Guyonne-Jeanne pernah merasa bosan berdoa rosario bersamanya, saat itulah ia berkata kepada adiknya: “Kalau kamu berdoa rosario kamu akan menjadi cantik sekali.” Dari kisah ini kita dapat melihat dengan jelas keintiman relasi Montfort dengan Rosario. Dalam buku Rahasia Rosario St. Montfort mengulas banyak hal tentang Rosario. Dalam penjelasan-penjelasan yang disampaikan Montfort, ia menjelaskan Rosario dengan analogi bunga mawar. Tulisan kecil ini mencoba mendalami bagaimana penjelasan St. Montfort dalam judul Mawar Merah. Kita akan mulai dengan melihat sesuatu di luar teks tentang bunga mawar dalam sejarah. L...

Makna ikon dalam Gereja Katolik

KEAGUNGAN TUHAN DALAM IKON Pengantar             Manusia adalah makhluk berbudaya. Manusia mengekspresikan dirinya melalui kebudayaan yang ia miliki. Demikian pula halnya dalam pengungkapan imannya. Manusia mengungkapkan imannya juga dalam kebudayaannya. Iman pertama-tama memang berkaitan dengan hubungan antara manusia dan Tuhan. Tetapi manusia hidup bersama orang lain di tengah masyarakat. Hidup sosialnya turut menentukan hidup imannya. “Allah menyelamatkan orang-orang bukannya satu per satu, tanpa hubungan satu dengan lainnya”(LG 9). [1] Boleh dikatakan bahwa manusia menjawab wahyu Tuhan dengan sosialitasnya, dengan kebudayaannya, dan dengan kemampuannya. Salah satu produk kebudayaan manusia adalah seni. Manusia mengekspresikan imannya melalui kesenian yang diciptakannya. Gereja katolik tidak bisa terpisahkan dari seni. Hal itu tampak dalam bangunan (seni lukis, seni pahat, dan seni ukirnya), lagu-lagu atau musik ger...