Langsung ke konten utama

CERPEN: Poster Dinding

POSTER
Berderak bunyi gagang pintu kamarku karena kubuka terburu-buru. Tanpa melepas sepatu kuliah kesayanganku,  yang aromanya tak bisa berkompromi lagi, aku berlari memasuki kamarku seperti orang kebelet pipis. “Huh…….!” gumamku sambil menghempaskan diri di atas kasur. Belum, dan memang bukan saatnya untuk tidur, tapi yah bergitulah, aku merasa begitu lelah sekali hari ini. Tidak seperti biasanya. Dengan keringat yang masih membasahi hampir sekujur tubuhku, tatapanku menyapu kosong ke arah dinding putih kamarku. Terhirup sisa aroma parfum murahan yang kupakai pagi tadi, berpadu menciptakan keseimbangan yang unik dengan aroma keringat dan kaus kaki bekasku yang tergeletak begitu saja di balik daun pintu. Indera ciumku telah terbiasa dengan aroma khas yang memenuhi ruangan kecil tempat aku menghabiskan sebagian waktuku ini. Terkadang memang aku membuka jendela lebar-lebar sekadar menetralisasi udara kamar 107 ini dengan sedikit udara segar.
“Ah, lupakan saja soal aroma itu.” Aku menarik nafas panjang sambil menangkap setiap benda di kamarku. Sempat terbersit beban di hati melihat sampiran yang seolah kian melemah karena tak sanggup menahan berat pakaian kotor yang kian menumpuk. “Kapan ya, aku harus mencuci pakaianku? Ah, nanti dulu lha….” Kucoba menegakkan tubuhku, duduk di pinggir ranjang dengan spons yang serasa tak lagi lentur ini. Pandanganku beralih ke atas meja belajarku. Berantakan. Buku-buku, helaian-helaian kertas penuh coretan, diktat, pensil, penggaris, korek api, dan entah apa lagi bertebaran tak karuan. Gambar kecil seorang Wanita Kudus di sudut meja itu hampir tak kelihatan tertutup benda-benda aneh yang berserakan. Yang masih jelas terbaca hanya tulisan-tuisan jelek tertempel di dinding. Sederet jadwal kegiatan, dari kegiatan komunitas, kegiatan kampus, mata kuliah, batas pengumpulan tugas, dan bayak tulisan kecil yang lain hapir tak terbaca lagi. “Huh! Jadwal klasik itu lagi, ujian...tgl…ujian…tgl.… Dasar…! Sahabat lama yang nyaris tak pernah membuat aku tenang dan bahagia menghadapinya. Sampai kapan aku akan benar-benar jauh terpisah darinya? Takkan pernah. Sialan, jadi teringat lagunya Justin Biber:Never Say never’. Mungkin dia akan selalu menjadi sahabat setiaku, sampai kapanpun, layaknya butiran keringat di kening ini, yang tak akan pernah berhenti mengalir selama akau masih memberi kesempatan pada rongga dadaku untuk menarik  dan menghembuskan nafas di atas putaran sepasang roda sepeda UNITED kesayanganku. ” Oiss… kata-kata puitis dari mana lagi ini? Mungkin aku kebanyakan nonton sinetron hari Sabtu siang, mungkin saja. “Tapi jangan terlalu dipikirkan.” Sepotong syair lagu yang mengalun dari Cosmonita FM yang tak sengaja kudengarkan sekan menguatkan aku: “janganlah kau bersedih, coz everything gonna be OK!”
“He…he…he… lucunya hidup ini.” Aku hanya tersenyum kecil dalam hati melihat buku-buku tersusun agak rapi dalam rak dekat meja belajarku. Di sampingnya ada sebuah lemari berukuran cukup besar, tetapi tak penuh terisi. Menarik, di sana tergantung sebaris harmoni angka merah dan hitam 1-31. Tak puas dengan indah harmoni itu, hadir juga coretan-coretan jelek di sana. Ada hitam tertentu yang dilingkari: ….kuliah sore, …..kumpul tugas, ……tidak masuk. “Ah masa bodoh, peduli amat!” Tapi tak semudah itu untuk mengacuhkannya, terlalu naif tuk menghempaskan simbol-simbol waktu trsebut selama aku masih bisa terlelap di setiap gelap malam dan membuka mata di setiap hangat mentari pagi.

“Ah, hanya mengulang-ulang yang itu lagi, biasa sajalah kata-katanya.” Tetapi tatapanku seakan terperangakap pada selembar poster dinding yang telah pudar, maklum itu hasil guntingan dari kalender bekas yang kuambil dari tempat sampah. Di sana ada gambar sebuah tim sepak bola kesayanganku, Real Madrid. Ada sedikit kebanggan di hatiku saat melihat  dan sekadar merefleksikan inspirasi perjuangan yang mereka berikan bagiku. Real Madrid, memang ketika mendengar namanya saja orang akan langsung membayangkan sebuah klub raksasa yang tak terkalahkan klub manapun. Tapi faktanya tidak demikian, di balik nama besar  mereka ada berjuta keringat dan air mata perjuangan yang telah menetes membasahi jejak perjuangan. Mereka tak pernah berhenti tuk menghapus hanya setitik keringat di kening, tapi terus berjuang hingga setip titik keringat terhapus hawa sejuk kesuksesan. Dan untukku waktu adalah hidupku, nyawa dari setiap kata yang masih bisa kuucap, senyum dari setiap letih yang masih bisa kurasa, tawa dan kepedihan yang masih terus bertukar di setiap alur yang masih bisa terukir di belakang setiap putaran dua roda sepeda usangku.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Dongeng Manggarai Timur, Mbo' Ete

MBO’ ETE             Teringat sepotong dongeng (tombo nengon) masa kecil yang sangat menarik tentang Mbo’ Ete (Nenek Ete) . Terjemahan dalam bahasa Indonesianya kira-kira seperti berikut: “Pada zaman dahulu hiduplah seorang nenek bernama Ete (Mbo’ Ete). Ia hidup sendirian dan hanya ditemani dua ekor anjing [1] kesayangannya. Pada suatu hari ia mendapat undangan dari Mbunga dan Ndilan untuk mengikuti acara ‘rebo’ anak’ mereka (pemberian nama seorang anak) yang juga merupakan cucunya. Mbunga dan Ndilan tinggal di langit. Konon, kala itu jarak antara langit dan bumi masih sangat dekat. Buktinya sampai sekarang ‘betong’ (pohon bambu) melengkungkan pucuknya ke bawah karena tidak bisa lagi bertumbuh ke atas. ‘Doong le langit’ (pertumbuhannya tertahan oleh langit). Langit dan bumi hanya dihubungkan oleh ‘wase azo’’ (sejenis pohon bertali di hutan). Sampai pada hari yang ditentukan, pergilah Mbo’ Ete ke lagit ditemani kedua ekor ...

MAWAR DAN ROSARIO

MAWAR MERAH dan ROSARIO 1.    Pengantar Dalam riwayat hidup St. Montfort kita mengetahui bahwa sejak usia kanak-kanaknya ia sangat mencintai doa rosario. Dalam salah satu kisah, diceritakan bahwa ia menjadi rasul Bunda Maria bagi saudara-saudari dan teman-teman sepermainannya. Ia sering mengajar dan mengajak mereka berdoa rosario. Seorang adiknya yang bernama Guyonne-Jeanne pernah merasa bosan berdoa rosario bersamanya, saat itulah ia berkata kepada adiknya: “Kalau kamu berdoa rosario kamu akan menjadi cantik sekali.” Dari kisah ini kita dapat melihat dengan jelas keintiman relasi Montfort dengan Rosario. Dalam buku Rahasia Rosario St. Montfort mengulas banyak hal tentang Rosario. Dalam penjelasan-penjelasan yang disampaikan Montfort, ia menjelaskan Rosario dengan analogi bunga mawar. Tulisan kecil ini mencoba mendalami bagaimana penjelasan St. Montfort dalam judul Mawar Merah. Kita akan mulai dengan melihat sesuatu di luar teks tentang bunga mawar dalam sejarah. L...

Makna ikon dalam Gereja Katolik

KEAGUNGAN TUHAN DALAM IKON Pengantar             Manusia adalah makhluk berbudaya. Manusia mengekspresikan dirinya melalui kebudayaan yang ia miliki. Demikian pula halnya dalam pengungkapan imannya. Manusia mengungkapkan imannya juga dalam kebudayaannya. Iman pertama-tama memang berkaitan dengan hubungan antara manusia dan Tuhan. Tetapi manusia hidup bersama orang lain di tengah masyarakat. Hidup sosialnya turut menentukan hidup imannya. “Allah menyelamatkan orang-orang bukannya satu per satu, tanpa hubungan satu dengan lainnya”(LG 9). [1] Boleh dikatakan bahwa manusia menjawab wahyu Tuhan dengan sosialitasnya, dengan kebudayaannya, dan dengan kemampuannya. Salah satu produk kebudayaan manusia adalah seni. Manusia mengekspresikan imannya melalui kesenian yang diciptakannya. Gereja katolik tidak bisa terpisahkan dari seni. Hal itu tampak dalam bangunan (seni lukis, seni pahat, dan seni ukirnya), lagu-lagu atau musik ger...