Langsung ke konten utama

Cerita Pendek: Diam

 DIAM
            “………Tahukah engkau wahai mentari, hari ini di bawah bias hangatmu aku tersenyum hambar, menari ngawur menuruni lembah luas tak bertepi. Di atas harmoni putaran dua roda  hitam bergulir,  aku berlari kecil mengejar padang  hijau kehidupan tak bertuan nun jauh di bukit sana. Kembang senyuman sebutir kemilau embun di balik daun itu seakan menyapaku ramah dalam sebaris puisi “selamat pagi.” Aku terus berlari, kudengar jerit debu jalanan merontah entah sakit entah geli terlindas dua putaran roda hitamku. Semilir sejuk seakan tak enggan menatapku tajam, entah terkejut entah kagum akan laju sepedaku menyibak udara di hari baru ini. Ringkik pongah dua pedal di ujung ayunan tungkaiku mengontrol pergerakan rantai, berputar menggesek sepasang gerigi logam berlumuran cairan hitam. Menetes membuntutiku melukis lajur-lajur hitam mengotori aspal jalanan.
            Hamparan hijau padang itu makin mendekati pelupuk mataku. Semerbak harum bunga-bunga padang seakan menyengat kedua lubang indera ciumku. “Siapakah pemilik surga ini?” Tidak kulihat siapapun ada di sini. Dan indah senyum bunga rumput liar itu seakan memberiku jawaban lantang, “Kami milikmu.” “Ah, mungkinkah? Dikau hanya bercanda teman. Melihatmu saja, aku baru kali ini, apalagi mengenal dan memilikimu indahmu. Tidak, tidak mungkin. Engkau pasti membohongiku atau hanya sekadar menghibur letih tungkaiku menyusuri lembah sunyi ini.” Kembali indah senyum itu menyinggahi bibir mungilnya, “Benar teman, kami milikmu.” “Ah, ini hanya mimpi!” tapi aku hampir mempercayai kata-katanya. Ia kembali meyakinkanku, “Kami ini milikmu, tapi bukan dalam ruang dan waktu yang selalu kau banggakan dan kau sembah itu.” Belum sempat aku menarik nafas menyerap kata-katanya ia menyambung lagi, “Engkau terlalu asyik dalam buaian waktumu kawan. Sekaranga engkau hanya tersesat dari kebisingan duniamu sehingga bisa menemui kami di sini. Kami hanyalah milik yang dicampakkan oleh nenek moyangmu dalam perang melawan pergerakan waktu. Kami telah terkubur dalam kegelapan dunia terdalam, bahkan tanpa nisan atau seonggok tanah pusara, apalagi taburan kembang belasungkawa dan barisan puisi memoriam nanindah. Sejarahmu terlalu gelap terselubung asap waktu tuk menyingkap keberadaan kami. Kami jatuh terlalu dalam hingga kami tak tahu dari mana kami dibuang. Syukurlah engkau datang, kawan. Engkau seakan membawa seberkas sinar temaram dalam gelap identitas kami. Engkaulah pahlawan sejati kami yang disebut bencana oleh sekelompok makhluk angkuh temanmu itu. Hadir dirimu membuat kami merasa berharga dan diperhatikan. Terima kasih, pahlawan.” Aku tersentak tak percaya akan sebutan baru yang ia kenakan padaku: “Pahlawan, Bencana.” Sejenak aku terpekur merenung kata-kata lirihnya tadi. Ah, mungkin ia benar juga. Itulah alasan mengapa debu-debu jalanan merontah, menjerit entah geram entah sedih terlindas kedua roda hitamku. Itulah sebabnya mengapa semilir sejuk pagi tadi seakan terkejut menyaksikan laju sepedaku. Tapi mengapa kemilau embun itu tersenyum ramah menyapaku? Mungkinkah itu hanya sebersit senyum palsu yang coba membangun citra di tengah jeritan debu jalanan? Kalau benar-benar ia tersenyum menyapaku pasti ia juga tersentuh jeritan debu jalanan dan turun menyirami pedihnya menjadi lumpur yang menggelincirjatuhkan laju dua roda hitamku? Nyatanya ia haya semakin merasa nyaman berbaring di balik dedaunan elok di sana menikmati hangat sinar mentari pagi. Dan engaku mentari, masihkah engkau tegar menyaksikan aneh paradoks ini? Tidak, aku tidak sanggup. Lebih baik aku mati saja…….”
            Kulirikkan mataku ke arah beker kecilku yang memendarkan cahaya redup. Pkl. 00:35 AM. Suara gemercik air hujan, deru petir sahut-menyahut, bersama cahaya terang berkedip-kedip yang menyusup celah gorden jendela kamarku telah membangunkan aku. Suara itu, dia tidak hanya membagunkan aku dari lelaptidurku. Ia telah menjerit di dalam diam dan gelap kamarku malam ini.  Ada suara yang berbicara, seakan aku sedang bersama sang guru di ruang kelas kampusku, di ruang kelas kehidupan, mata kuliah tentang hidup, tentang alam. Lebih dari sekadar teori sistematis logis. Ini suara alam, suara sang guru kehidupan yang menjerit dalam diam.
            “Hmmm….” Kutarik kembali selimut tipisku, menutupi tubuh fana ini dari dingin malam yang menusuk. Kucoba pejamkan kembali metaku, melanjutkan mimpiku. Lalu gelap malam membawaku kembali terbang ke lagit imagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Dongeng Manggarai Timur, Mbo' Ete

MBO’ ETE             Teringat sepotong dongeng (tombo nengon) masa kecil yang sangat menarik tentang Mbo’ Ete (Nenek Ete) . Terjemahan dalam bahasa Indonesianya kira-kira seperti berikut: “Pada zaman dahulu hiduplah seorang nenek bernama Ete (Mbo’ Ete). Ia hidup sendirian dan hanya ditemani dua ekor anjing [1] kesayangannya. Pada suatu hari ia mendapat undangan dari Mbunga dan Ndilan untuk mengikuti acara ‘rebo’ anak’ mereka (pemberian nama seorang anak) yang juga merupakan cucunya. Mbunga dan Ndilan tinggal di langit. Konon, kala itu jarak antara langit dan bumi masih sangat dekat. Buktinya sampai sekarang ‘betong’ (pohon bambu) melengkungkan pucuknya ke bawah karena tidak bisa lagi bertumbuh ke atas. ‘Doong le langit’ (pertumbuhannya tertahan oleh langit). Langit dan bumi hanya dihubungkan oleh ‘wase azo’’ (sejenis pohon bertali di hutan). Sampai pada hari yang ditentukan, pergilah Mbo’ Ete ke lagit ditemani kedua ekor ...

MAWAR DAN ROSARIO

MAWAR MERAH dan ROSARIO 1.    Pengantar Dalam riwayat hidup St. Montfort kita mengetahui bahwa sejak usia kanak-kanaknya ia sangat mencintai doa rosario. Dalam salah satu kisah, diceritakan bahwa ia menjadi rasul Bunda Maria bagi saudara-saudari dan teman-teman sepermainannya. Ia sering mengajar dan mengajak mereka berdoa rosario. Seorang adiknya yang bernama Guyonne-Jeanne pernah merasa bosan berdoa rosario bersamanya, saat itulah ia berkata kepada adiknya: “Kalau kamu berdoa rosario kamu akan menjadi cantik sekali.” Dari kisah ini kita dapat melihat dengan jelas keintiman relasi Montfort dengan Rosario. Dalam buku Rahasia Rosario St. Montfort mengulas banyak hal tentang Rosario. Dalam penjelasan-penjelasan yang disampaikan Montfort, ia menjelaskan Rosario dengan analogi bunga mawar. Tulisan kecil ini mencoba mendalami bagaimana penjelasan St. Montfort dalam judul Mawar Merah. Kita akan mulai dengan melihat sesuatu di luar teks tentang bunga mawar dalam sejarah. L...

Makna ikon dalam Gereja Katolik

KEAGUNGAN TUHAN DALAM IKON Pengantar             Manusia adalah makhluk berbudaya. Manusia mengekspresikan dirinya melalui kebudayaan yang ia miliki. Demikian pula halnya dalam pengungkapan imannya. Manusia mengungkapkan imannya juga dalam kebudayaannya. Iman pertama-tama memang berkaitan dengan hubungan antara manusia dan Tuhan. Tetapi manusia hidup bersama orang lain di tengah masyarakat. Hidup sosialnya turut menentukan hidup imannya. “Allah menyelamatkan orang-orang bukannya satu per satu, tanpa hubungan satu dengan lainnya”(LG 9). [1] Boleh dikatakan bahwa manusia menjawab wahyu Tuhan dengan sosialitasnya, dengan kebudayaannya, dan dengan kemampuannya. Salah satu produk kebudayaan manusia adalah seni. Manusia mengekspresikan imannya melalui kesenian yang diciptakannya. Gereja katolik tidak bisa terpisahkan dari seni. Hal itu tampak dalam bangunan (seni lukis, seni pahat, dan seni ukirnya), lagu-lagu atau musik ger...