Langsung ke konten utama

Sinopsis film DES HOMMES ET DES DIEUX dari ilmu Metafisika

DES HOMMES ET DES DIEUX
“Aku” di Pinggiran Eksistensi

Pengantar
“Bagaimana kau tahu kau sedang jatuh cinta?”
“Itu dalam dirimu yang menjadi hidup karena kehadiran seseorang. Ia tidak bisa ditutupi dan membuat jantungmu berdetak kencang. Itu adalah daya tarik, keinginan, itu sangat indah. Tidak ada gunanya bertanya terlalu banyak, itu terjadi begitu saja. Semua seperti biasanya, lalu tiba-tiba kegembiraan datang, atau sebuah pengharapan.”
Cinta memang sesuatu yang indah. Dari padanya datang kegembiraan dan pengharapan. Sepenggal dialog singkat di atas merupakan petikan percakapan Bruder Luke dengan seorang gadis Palestina yang sedang gundah hati karena pengalaman cintanya. Rupanya cinta itu juga tidak hanya membawa kebahagiaan, tetapi juga kegundahan, pertanyaan, dan kebimbangan karena harus memilih.
“Pernah jatuh cinta?”
“Beberapa kali, dan aku merasakan cinta yang lain, bahkan yang lebih besar. Dan aku menjawab cinta itu. Sudah cukup lama. Lebih dari enam puluh tahun” kata Bruder Luke.
Cinta yang dijawab oleh Bruder Luke inilah yang melatarbelakangi kisah panjang memilukan film Des Hommes et Des Dieux. “Antara Manusia dan Tuhan” diangkat dari sebuah kisah nyata pada tahun 1995-1996. Tentang pergumulan eksistensial kesembilan rahib Benedictin berkebangsaan Prancis dari biara Monastere de I’Atlas di Palestina. Melalui film ini kita seolah diajak mendaki sebuah bukit penuh ketegangan. Bukit penuh bebatu kerikil konflik-konflik mencekam sambung-menyambung satu dengan yang lain dan kita dituntun untuk melompat, masuk, dan tenggelam dari satu ketegangan ke ketegangan lain. Dibawa masuk-keluar dari pergumulan batin seorang tokoh ke tokoh yang lain. Hingga akhirnya setelah hampir dua jam lebih kita larut dalam plot mencekam, sampailah kita pada puncak ketegan: sebuah perjamuan akhir mengharukan dan menusuk hati. Dimana kita akan menyaksikan ekspresi wajah-wajah manusia fana di pinggiran (eksistensi) hidupnya. Di situ, di pinggiran itulah akhirnya ditemukan jawaban atas pergumulan panjang kedelapan rahib biara Monastere de I’Atlas. Agar lebih jelas, berikut secara singkat disajikan alur film ini.

Alur Film
            Adegan-adegan pada awal film memang banyak memperlihatkan bagaimana keseharian hidup para rahib di tengah masyarakat di suatu daerah di Palestina. Mereka begitu terlibat dalam kehidupan masyarakat sekitarnya. Begitu pula dengan sambutan baik dari masyarakat di sekitar biara mereka yang mayoritas beragama muslim. Diperlihatkan misalnya, pelayanan mereka kepada orang-orang kecil di sekitar mereka (pelayanan kesehatan dan jasa surat-menyurat), bagaimana mereka bekerja sama dengan masyarakat sipil, dan salah satu adegan paling mengesankan ketika mereka turut serta dalam kegembiraan dan doa bersama (dalam tata cara muslim) pada sebuah pesta ulang tahun seorang anak. Dalam acara tersebut mereka berbaur bersama para lelaki muslim di ruangan yang terpisah dengan kaum perempuan (mungkin untuk memperlihatkan adanya pemisahan antara laki-laki dan perempuan dalam kebudayaan setempat), mereka masuk dalam kekhusukan doa tersebut. Menarik bahwa meskipun mereka menghayati kehidupan sebagai rahib yang tinggal dalam biara, mereka begitu menyatu dengan orang-orang di sekitar mereka. Sautu situasi awal yang begitu damai, tenang, dan tenteram; belum ada kecemasan, pertentangan, ataupun konflik.
            Perlahan-lahan kedamaian itu tergerus digerogoti beberapa kabar mengerikan yang mereka dengar dari masyarakat di sekitar mereka. Pertama, mereka mendengar kabar pembunuhan keji yang terjadi di sekitar mereka. Seorang perempuan bernama Samira dibunuh dalam bus dan dibuang oleh orang-orang tak dikenal. Mungkin karena Samira tidak mengenakan jilbab. Orang-orang itu juga membunuh seorang imam di jalanan.
Terus memuncak, Croatians, teman mereka dibunuh dengan sadis. Secara brutal Croatians dipotong lehernya di pasar. Kabar ini sungguh menggetarkan mereka. Kabar buruk yang mereka dengar semakin mendekat dan kini terjadi dalam lingkungan mereka sendiri. Bukan tidak mungkin, kekerasan itu akan terus berlanjut dan akan menimpa mereka juga. Hal itu menjadi semakin jelas ketika Polisi datang memperingatkan dan menawarkan pengawalan khusus bagi biara mereka. Dari sini dimulailah ketegangan panjang, pertentangan, dan kebimbangan dalam diri setiap pribadi maupun sebagai komunitas, dalam diri Christian sebagai  pemimpin maupun setiap rahib anggota komunitas.
            Peristiwa tragis di pasar itu ternyata memulai konflik panjang. Beberapa anggota komunitas mulai mempertanyakan keputusan pemimpin mereka yang menolak tawaran keamanan dari pihak kepolisian. Masing-masing mulai mencemaskan keamanan hidupnya dari ancaman teror orang-orang tak dikenal di tanah asing Palestina. Tetapi Christian tetap pada pendiriannya; ia memang membutuhkan situasi yang aman, tetapi tidak mau bekerjasama dengan pemerintah yang korup.
            Apa yang dikhawatirkan akhirnya datang juga. Sepasukan orang tak dikenal, bersenjata lengkap, di bawah pimpinan seorang yang mengaku bernama Ali menyerobot masuk dan langsung mencari pemimpin komunitas itu. Mereka meminta dokter yang tidak lain adalah Bruder Luke. Setelah melewti dialog yang panjang dengan Ali Fayattia, akhirnya dengan tenang Christian menolak permintaan itu. Peristiwa malam itu ternyata mengakibatkan trauma yang mendalam khususnya bagi tiga orang anggota komunitas (Christophe, Michel, dan terlebih lagi Celestin yang pertama kali ditodong moncong senapan). Mereka menjadi begitu takut dan tak berdaya. Dan peristiwa itu tepat terjadi beberapa hari sebelum perayaan kelahiran Juru Selamat. “The Happy Night of Palestina” yang biasanya dinyanyikan dengan penuh  semangat kegembiraan pada malam Natal, menjadi begitu datar, sedih memilukan.
            Keputusan yang diambil Christian kali ini sekali lagi dipertanyakan. Dengan menolak memberikan bantuan medis kepada para teroris itu, keamanan mereka semakin terancam. Diskusi berlangsung menegangkan. “Aku menjadi biarawan untuk hidup, bukan untuk diam dan dibunuh” keluh Celestin. “Tidak memberi mereka obat sama artinya dengan pernyataan perang” sambung yang lainnya. Pertemuan berakhir dengan votting. Lebih banyak yang memilih pulang ke Prancis daripada memilih untuk tetap tinggal.  Hanya Amadee dan Christian sendiri yang belum memberi jawaban, votting itu terlalu cepat dilakukan. Benar, banyak masyarakat sipil masih membutuhkan bantuan dan keberadaan mereka.
            Lebih lanjut, gambaran emosi beberapa tokoh ditonjolkan dalam beberapa adegan pembicaraan pribadi dengan Christian sebagai pemimpin komunitas. Pertama adalah Paul. Ketika ia ditanya soal pilihannya untuk pergi, ia menceriterakan pengalaman ketika terakhir kalinya berada di Perancis. Suatu kenangan indah yang membuatnya sedih ketika diingat dalam situasi terancam yang sedang ia alami. Menarik, ketika wajahnya di-close up, ada ekspresi yang lengkap dari seraut wajah tuanya. Kesedihan, kebingungan, pertanyaan, semuanya bercampur aduk tak menentu. Dan akhirnya ia menyatakan keputusannya: “Tidak, tidak mungkin. Hidupku di sini, denganmu.”
            Lain lagi dengan Luke.  Usianya sudah tua, ia juga menderita asma. Tetpi ia terlihat begitu tenang menghadapi persoalan. Ia mengatakan bahwa ia telah banyak berpengalaman menghadapi situasi terancam seperti itu. “Aku tidak takut pada teroris. Aku tidak tkut mati.” Ia hanya peduli dengan meningkatnya tekanan yang dialami orang-orang yang ia layani. Christian sugguh salut terhadap jawaban bruder tua itu. Jawaban bruder Luke itu berbeda dengan apa yang menjadi jawaban dan ungkapan hati Christophe. Selain wajahnya yang terlihat masih muda di antara mereka, ia juga merupakan pribadi yang paling emosional menghadapi persoalan ini. Ia begitu tertekan dan frustrasi. “Suara kecil membangunkan aku. Aku memikirkn lagi hidupku, pilihanku. Mati untuk imanku tidak seharusnya membuat aku terjaga setiap malam. Mati di sini, apakah itu ada artinya? Sepertinya aku menjadi gila. Aku tidak tahu apakah semuanya itu benar lagi? Aku berdoa dan aku tidak mendengarkn apapun. Aku tidak mengerti.” Kata-kata yang datar dan bernada keputusasaan, keluar diringi derai air mata kekalutannya. Dengan tenang Christian memberikan peneguhan dan nasihat kepadanya dan ia pun merasa dikuatkan. Hingga dalam pertemuan berikutnya semua menyampaikan isi hati dan pilihan mereka untuk tetap tinggal.
            Siapa yang bisa menahan diri untuk tidak terlarut dan terbawa dalam emosi dan konflik film ini? Betapa tidak, tanpa disadari film yang telah berjalan cukup panjang ini ternyata berjalan tanpa sisipan bebunyian musik latar. Hingga sampailah kita pada situasi-situasi puncak yang mengharukan. Pada bagian akhir ini diperlihatkan bagaimana manusia itu seolah sedang menorehkan kenangan-kenangan pada saat-saat terakhir dalam hidupnya. Dilukiskan bagaiman mereka berfoto bersama dengan ekspresi wajah yang bercampur entah gembira entah gelisah. Bagaimana mereka menceriterakan kepada Bruno pengalaman ketegangan mereka menghadapi situasi teror dalam masyarakat dan biara mereka. Lebih mengharukan lagi, ketika pengalaman itu dirangkai dengan kutipan-kutipan ayat Kitab Suci yang menggambarkan kepasrahan dan totalitas penyerahan diri mereka hanya kepada Tuhan. Terus mengalir dalam konsekrasi dan penyambutan Tubuh dan Darah Kristus hingga sebuah perjamuan simbolis yang merupakan puncak dan pusat dari keseluruhan kisah film ini. Bagaimana kesembilan rahib itu duduk di sekitar meja seperti pada peristiwa perjamuan terakhir. Mereka menerima anggur, meneguknya perlahan, dan wajah-wajah itu sungguh menggambarkan wajah-wajah di pinggiran kehidupan. Ada kekalutan, air mata pilu menyesakkan, tetapi kemudian mengembang senyum bercampur air mata. Sungguh suatu keharuan yang luar biasa. Dan baru pada adegan perjamuan terakhir inilah musik mengalun menyayat-nyayat hati. Ketegangan dan keharuan pada adengan ini bahkan mengalahkan keharuan pada adegan selanjutnya ketika mereka ditangkap dan dibawa pergi oleh para teroris, menggigil kedinginan dalam sebuah truck, mendaki suatu bukit dingin bersalju tebal entah ke mana, dan akhirnya yang tersisa hidup hanya Amadee dan Jean Pierre.

“Aku” di Pinggiran Eksistensi
            Menarik, ketika menyaksikan film ini menggunakan kaca mata metafisis. Pertanyaan tentang arti kehadiran seorang manusia dalam dunia begitu ditonjolkan dalam film ini. Pertanyaan itu adalah sebuah ekspresi keheranan yang membawa kepada kesadaran diri “Know yourself”[1]. Konflik-konflik yang dialami oleh setiap tokoh adalah konflik tentang pencarian dan pencapaian kesadaran diri. Saat itulah mereka mulai mempertanyakan keseluruhan hidupnya. Mempertanyakan perbuatan-perbuatannya, cita-citanya, pengharapan dan kecemasannya, relasi, perjuangan, cinta dan pengorbanannya, pengalaman kesehariannya, semuannya: kesadaran tentang “Esse”-nya.[2] Hal itu hanya terjadi saat mereka berada dalam situasi pinggiran hidup. Mengapa situasi pinggiran hidup?
Kesembilan rahib ini dikatakan berada di pinggiran hidup karena nyawa mereka sedang terancam dalam sitauasi teror di Palestina saat itu. Sama seperti banyak warga sipil lainnya di sekitar mereka, mereka juga dihantui ketakutan dan kecemasan yang dahsyat, trauma, tertekan dan bingung. Bukan hanya teroris yang membuat mereka tertekan, pihak kepolisian juga mencurigai bahwa mereka telah bekerja sama dengan teroris. Lalu apa yang membedakan ketegangan mereka dengan ketegangan masyarakat sipil lainnya? Di sinilah letak inti film ini: Antara Tuhan dan Manusia. Kesembilan (tepatnya delapan) rahib ini masih mempunyai pilihan: Menetap atau Pulang. Persoalan menetap atau pulang rupanya bukan hanya sekadar persoalan posisi fisik belaka. Ini tentang konsistensi pilihan hidup sebagai rahib/biarawan yang membaktikan seluruh diri di hadapan Tuhan.
Jika kita tinggal/menetap, keselamatan kita terancam setiap hari.” “Kita tidak seharusnya mencari penderitaan. Mungkin kita harus pergi. Atau setidaknya berlindung di tempat yang lebih aman.” “Penggembala yang baik tidak meninggalkan dombanya dimangsa serigala”.
Petikan dialog ini sungguh menunjukkan suatu dilema seorang manusia fana dalam dialognya dengan Tuhan. Dialog yang mengandung pertanyaan besar tentang hubungan mereka sebagai biarawan, dengan Tuhan. Hal ini menjadi jelas ketika menyimak doa-doa, bacaan rohani atau kutipan Kitab Suci yang diperdengarkan dalam beberapa adegan; begitu meneguhkan dan kadang begitu kontras dengan situasi yang mereka hadapi. Sebut saja suasana Natal yang seharusnya dipenuhi suka cita dan kegembiraan, sayang suasana itu harus dilalui dengan penuh ketegangan karena situasi teror yang telah menimpa mereka.
Pertanyaan demi pertanyaan, kebimbangan demi kebimbangan datang silih berganti dan semua itu mereka lalui sebagai saat-saat paling menentukan di pinggiran hidup mereka. Dan justru pada saat-saat seperti itulah akhirnya mereka menemukan jawaban atas pertanyaan dan kebimbangan mereka. Jawaban itu tidak langsung mereka dengarkan dari Tuhan, tetapi dari ketegasan pilihan mereka sendiri untuk tetap setia sampai mati. Boleh dikatakan, sampai di sinilah mereka sampai pada kesadaran bahwa mereka sesungguhnya adalah “aku yang sedang berziarah menuju Sang Aku sejati”. Bagaimana “aku” sampai berjumpa Sang Aku sejati, aku tidak berani berkata-kata. Terdiam. Masuk dalam keheningan.[3] Itulah makna seluruh peziarahan mereka; berjumpa dengan Sang Aku sejati.

Kesimpulan
            Manusia tidak sesederhana apa yang kelihatan. Hidup memang akan menjadi begitu sederhana ketika manusia  hidup tanpa refleksi, begitu larut dalam kesibukan mengejar kesuksesan temporal hingga ia kurang menyadari eksistensinya. Melalui kisah film Des Hommes et Des Dieux dikatakan bahwa sesungguhnya keseluruhan pengalaman hidup manusia merupakan sebuah peziarahan panjang mencari kesejatian. Dalam melewati peziarahan tersebut ada begitu banyak keheranan, pertanyaan dan pilihan. Tetapi bagaimana, ke mana dan di mana sebenarnya peziarahan itu akan berakhir? Hening, sampai manusia menemui Sang Aku sejati. Kesadaran ini hanya akan ada ketika “aku” berada di pinggiran eksistensi.




[1] bdk. Diktat Pengantar Metafisika. hlm. 1.
[2] Bdk. Prof. Dr. Armada Riyanto, CM, Marcelinus Ari Christy, dan Paulus Punjung Widodo (eds.), AKU & LIYAN Kata Filsafat dan Sayap, Malang: Widya Sasana Publication,   2010. hlm. 3.
[3] Ibid. hlm. 24

Komentar

stenote mengatakan…
Blog yang bagus... semoga terus berkemabng... Saya ingin berbagi article tentang Perjamuan Akhir di Milan di http://stenote-berkata.blogspot.hk/2018/03/milan-di-perjamuan-akhir.html
Lihat juga video di youtube https://youtu.be/7G-Im8pb2i4

Postingan populer dari blog ini

Cerita Dongeng Manggarai Timur, Mbo' Ete

MBO’ ETE             Teringat sepotong dongeng (tombo nengon) masa kecil yang sangat menarik tentang Mbo’ Ete (Nenek Ete) . Terjemahan dalam bahasa Indonesianya kira-kira seperti berikut: “Pada zaman dahulu hiduplah seorang nenek bernama Ete (Mbo’ Ete). Ia hidup sendirian dan hanya ditemani dua ekor anjing [1] kesayangannya. Pada suatu hari ia mendapat undangan dari Mbunga dan Ndilan untuk mengikuti acara ‘rebo’ anak’ mereka (pemberian nama seorang anak) yang juga merupakan cucunya. Mbunga dan Ndilan tinggal di langit. Konon, kala itu jarak antara langit dan bumi masih sangat dekat. Buktinya sampai sekarang ‘betong’ (pohon bambu) melengkungkan pucuknya ke bawah karena tidak bisa lagi bertumbuh ke atas. ‘Doong le langit’ (pertumbuhannya tertahan oleh langit). Langit dan bumi hanya dihubungkan oleh ‘wase azo’’ (sejenis pohon bertali di hutan). Sampai pada hari yang ditentukan, pergilah Mbo’ Ete ke lagit ditemani kedua ekor ...

MAWAR DAN ROSARIO

MAWAR MERAH dan ROSARIO 1.    Pengantar Dalam riwayat hidup St. Montfort kita mengetahui bahwa sejak usia kanak-kanaknya ia sangat mencintai doa rosario. Dalam salah satu kisah, diceritakan bahwa ia menjadi rasul Bunda Maria bagi saudara-saudari dan teman-teman sepermainannya. Ia sering mengajar dan mengajak mereka berdoa rosario. Seorang adiknya yang bernama Guyonne-Jeanne pernah merasa bosan berdoa rosario bersamanya, saat itulah ia berkata kepada adiknya: “Kalau kamu berdoa rosario kamu akan menjadi cantik sekali.” Dari kisah ini kita dapat melihat dengan jelas keintiman relasi Montfort dengan Rosario. Dalam buku Rahasia Rosario St. Montfort mengulas banyak hal tentang Rosario. Dalam penjelasan-penjelasan yang disampaikan Montfort, ia menjelaskan Rosario dengan analogi bunga mawar. Tulisan kecil ini mencoba mendalami bagaimana penjelasan St. Montfort dalam judul Mawar Merah. Kita akan mulai dengan melihat sesuatu di luar teks tentang bunga mawar dalam sejarah. L...

Makna ikon dalam Gereja Katolik

KEAGUNGAN TUHAN DALAM IKON Pengantar             Manusia adalah makhluk berbudaya. Manusia mengekspresikan dirinya melalui kebudayaan yang ia miliki. Demikian pula halnya dalam pengungkapan imannya. Manusia mengungkapkan imannya juga dalam kebudayaannya. Iman pertama-tama memang berkaitan dengan hubungan antara manusia dan Tuhan. Tetapi manusia hidup bersama orang lain di tengah masyarakat. Hidup sosialnya turut menentukan hidup imannya. “Allah menyelamatkan orang-orang bukannya satu per satu, tanpa hubungan satu dengan lainnya”(LG 9). [1] Boleh dikatakan bahwa manusia menjawab wahyu Tuhan dengan sosialitasnya, dengan kebudayaannya, dan dengan kemampuannya. Salah satu produk kebudayaan manusia adalah seni. Manusia mengekspresikan imannya melalui kesenian yang diciptakannya. Gereja katolik tidak bisa terpisahkan dari seni. Hal itu tampak dalam bangunan (seni lukis, seni pahat, dan seni ukirnya), lagu-lagu atau musik ger...