MELATI
Jalan di depan pintu gereja terlihat
sepi. Tidak ada lagi beberapa lelaki yang biasa kongko-kongko sambil mengobrol
ringan atau sekadar menghabiskan sebatang rokok sebelum mengikuti misa hari
Minggu itu. Melati terus melangkah mendekati pintu utama. Dari dalam gereja
juga tak terdengar suara. Sunyi, entah benar-benar tidak ada suara karena semua umat
sedang hening mendengarkan romo atau belum ada umat yang hadir. Ia melirik pergelangan tangan kirinya. “Ya,,,
arlojiku lupa lagi” sesal Melati sambil tangannya langsung saja
meraih gagang pintu. Ia memutarnya dengan hati-hati agar tidak
menimbulkan suara berisik yang mungkin mengganggu kekhusukan di dalam gereja. “Demikianlah Injil Tuhan…” “Terpujilah
Kristuuu…s” terdengar suara pastor paroki disusul jawaban umat
sahut-menyahut. Suara itu seakan menghenentak menyambut Melati yang baru saja
membuat tanda Salib tepat di bawah palang pintu utama Gereja
St. Kristoforus. “Ya
ampun, aku sudah sangat terlambat!” keluh Melati dalam hati. Spontan saja
ia memilih tempat duduk di deretan bangku bagian kanan paling belakang. Satu
bangku yang masih kosong tetapi sekaligus menjadi tempat asing baginya. Ia tidak pernah
menempati bangku itu sebelumnya. Deretan itu hanya biasa ditempati
pemuda-pemuda yang juga biasa terlambat.
Dari tempat
duduknya Melati bisa melihat semua sudut ruangan dalam gereja St. Kristoforus
yang kecil dan sederhana itu. Tak ada balkon, apalagi menara lonceng yang menjulang.
Susunan bangku dalam gereja ini seolah membagi umat ke dalam enam kelompok
besar. Dari depan altar hingga ke pintu utama di belakang, bangku-bangku
terbagi menjadi dua deretan besar. Ada
satu lorong tengah membentuk sebuah
garis lurus dari pintu kiri ke pintu kanan. Seolah membelah gereja menjadi dua
bagian. Dari kiri ke kanan, barisan
bangku-bangku lusuh itu terbagi dalam tiga deretan yang dipisahkan dua lorong tengah memanjang
dari depan altar ke pintu utama di belakang. Bangku-bangku
yang lusuh dan tua, tapi masih kuat kokoh untuk ditempati. Warna kayu jati yang asli telah kian memudar. Memang hanya warna jati asli, tanpa satupun bekas polesan cat
warna-warni atau sekadar goresan amplas
penghalus.
Semuanya tersusun rapi di atas lantai semen tua pecah-pecah.
Ada dua
bangku kosong lagi di depan Melati. Pada deretan ketiga ada sepasang anak muda
yang entah berstatus pacaran ataukah hanya sekedar teman
dekat. Mereka duduk bersebelahan, begitu rapat. Pada bangku-bangku deretan
di depan mereka berselang-seling beberapa lelaki yang hampir semuanya berstatus kepala keluarga muda. Mereka terlihat
sangat serius menyimak kotbah Romo Yuno sambil beberapa kali tertawa, tersenyum
atau berkomentar sambil berbisik satu sama lain.
Pada deretan
tengah belakang atau di samping kiri di depan Melati, terlihat beberapa pasutri paruh baya, beberapa guru, dan
beberapa ibu muda. Ke deretan sebelah kiri lagi, terlihat beberapa ibu sedang sibuk mengawasi tingkah anak-anaknya yang masih
balita. Mereka tidak ditemani suami atau ayah dari anak-anak itu. Ada beberapa
yang ditemani ibunya sendiri, ibu mertua, adik, atau anak
perempuannya yang kira-kira masih berusia Sekolah Dasar.
Di hadapan
patung Santa Perawan Maria, pada deretan kiri sebelah
depan lorong tengah, ada anak-anak SD diikuti anak-anak SMP di belakangnya. Ada
beberapa guru juga di sana. Mungkin untuk menertibkan atau mengawasi anak-anak
didiknya agar tidak membuat keributan selama perayaan ekaristi suci itu.
Di depan
patung Hati Kudus Yesus, deretan paling kanan agak jauh
di hadapan Melati, entah ada siapa di sana. Tetapi biasanya ada umat dari
lingkungan yang bertugas menanggung liturgi atau koor. Melati tak bisa
melihatnya dengan jelas. Punggung-punggung kokoh beberapa lelaki di depannya
terlalu lebar untuk ukuran sepasang bola matanya yang mungil nanindah.
Melati hanya
bisa melihat beberapa laki-laki di deretan bangku tengah tepat di depan altar.
Ada Bapak Ketua Dewan Pastoral Paroki di
bangku paling depan. Di belakangnya berselang-seling beberapa ketua lingkungan,
tokoh-tokoh masyarakat, Bapak kepala sekolah, Bapak kepala desa, dan seorang pegawai kesehatan. Tak terlihat satu
pun perempuan di sana, setidaknya isteri
mereka.
“???... aneh! Tapi apanya yang aneh? Bukankah aku telah biasa
melihatnya? Pokoknya aneh!” Melati seolah
berdebat dengan dirinya sendiri. “Atau,,,
memang tempat terdepan seperti itu hanya cocok untuk mereka? Ah, tidak begitu
juga, memangnya ini acara rapat RT. Trus, ada apa? O, atau mungkin karena nama
pelindung paroki ini laki-laki? Ya,,, ngawur, tapi sepertinya begitu. Apa
hubungannya? Setahuku, ada begitu banyak paroi lain juga di Indonesia nama
pelindungnya laki-laki. Ah, entahlah. Who cares!” Melati lantas melayangkan
pandangannya ke atas panti imam. Di sana hanya ada Romo Yuno dan dua orang putera altar. Dua orang lektor menempati bangku
terdepan di deretan anak-anak. Tak ada pemazmur, paroki St.
Kristoforus masih biasa menggunakan lagu antarbacaan.
“Ya
Tuhan, di gereja mana aku sekarang?” Melati merasakan suatu keterasingan yang
tak lazim di bangku yang didudukinya. Seolah-olah ia sedang berada dalam gereja
asing yang ia juga tidak tahu entah di mana. Melati tidak
bisa berkonsentrasi mengikuti misa. Keterlabatannya hari itu hanya membawa
suatu rasa yang berbeda dalam dirinya. Ada sesuatu yang lain yang tak biasa.
Sesuatu yang berbeda dari apa yang biasanya ia lihat. Bangku di sudut belakang inilah penyebabnya. Dari
situ ia seolah
melihat secara lain kenyataan dalam gereja tua di mana ia telah dibabtis dua
puluh tiga tahun yang lalu. Ya, tepatnya dua
puluh tiga tahun yang lalu, sebelum empat tahun yang lalu ia melanjutkan
pendidikannya ke Jawa dan enam bulan yang lalu ia baru diangkat sebagai guru
honorer SMP St. Kristoforus.
Melati hampir terperanjat dari lamunannya ketika semua umat telah berdiri untuk bersama-sama mengucapkan
syahadat. Tak terasa lagi entah berapa menit telah berlalu selama romo
menyampaikan kotbahnya. Hampir tak satu kata pun yang sempat disimak apalagi meresap
ke dalam hatinya. Sekuat tenaga Melati mencoba mengumpulkan
kembali sisa-sisa konsentrasinya. Ia mencoba masuk kembali dalam kekhusukan
umat. Dibuangnya jauh-jauh segala pikiran yang berkecamuk dalam otaknya. “Konsen…konsen… setidaknya selama liturgi
ekaristi ini!” desah Melati dalam hatinya sembari memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.
***
“Puji Tuhan, setidaknya aku bisa
berkonsentrasi selama liturgi ekaristi tadi.” Melati duduk perlahan mencoba
kembali menenangkan diri setelah ikut menyanyikan lagu penutup bersama umat. Ia
berniat untuk tidak langsung keluar menemui teman-temannya. Dikatupkannya
kembali kedua tangannya dan sambil memejamkan mata Melati masuk kembali dalam
keheningannya sendiri. Sinta dan Dayu melihatnya dengan tatapan heran dari pintu
tengah bagian kiri. Mereka terlihat seperti serentak mengurungkan niat untuk
segera menemui Melati, mengajaknya jalan-jalan atau
bersama-sama berolahraga atau sekedar menonton permainan bola volley bersama umat lainnya. Bermain bola volley memang hobi Melati sejak kecilnya, ia tak pernah melewatkan setiap
kesempatan pada hari Minggu untuk ikut berolahraga atau sekedar melepas penat
bersama umat lainnya di lapangan paroki.
Suasana
dalam gereja sudah semakin sepi. Hanya terdengar sayup-sayup suara beberapa
lelaki sedang bercengkrama di halaman gereja,
mungkin sambil
menunggu isterinya selesai menyediakan santap siang
di rumah. Melati membuka mata. Seolah mengikuti suara hatinya ia melangkah
pelan menuju bangku paling depan. Sekali lagi ia berlutut, membuat tanda salib
dan duduk persis berhadapan dengan tabernakel tempat Tuhan bertahta. Melati
menatap lurus memandang tabernakel. Disadarinya bahwa Tuhan yang ada di sana
juga sedang memandang dirinya. Tak ada lagi suara lain, Melati hanya ditemani desah
sepoi yang menyapu lembut kulit wajahnya. Semerbak harum kembang penghias altar
menyusup masuk tercium indera ciumnya, seonggok hidung mancung yang memisahkan
kedua rona pipi lesungnya dengan sangat simetris.
“Tetapi, mengapa tak tercium wangi kembang melati di sana.
Padahal ada serumpun kembang melati dalam pot yang merambat di sisi depan meja
tabernakel itu.” Melati memang tahu benar bahwa melati tidak akan pernah memekarkan
kembang putihnya di siang hari. Jadi, tidak
mungkin kembang cantik itu harum di siang hari. Hanya kuncup-kuncup gemulai melekat
berbaris pada ujung-ujung pucuknya.
“Tuhan, mengapa tak kau mekarkan saja melati
itu di siang hari?” protes Melati dalam hati. “Setidaknya sekali ini saja, untuk terus mendupai tahta suci-Mu ini.
Atau sekadar untuk menghilangkan sisa-sisa bau keringat bercampur aroma
tembakau para lelaki. Atau mungkin menetralisasi bau parfum dari jubah pastor
paroki yang duduk di samping-Mu selama perayaan ekaristi tadi? ”
Diam. Tak ada sahutan jawaban. Tuhan
seolah tak tertarik mendengar jeritan hati terdalam putrinya, Melati. Kembang
melati penghias tabernakel itu hanya berayun lembut. Kuncup-kuncup itu melambai
riang, mungkin diterpa semilir yang tak henti di siang itu. Untaian helai
rambut lurus Melati juga ikut jatuh terurai perlahan menutupi sebagian wajahnya
yang masih tertunduk.
Ia terus mengeluh dalam hati kecilnya, “Tuhan, mengapa Kau simpan wangi melati itu
hanya untuk hening-Mu sendiri di malam hari. Saat semua orang lelap tertidur
meninggalkan-Mu sendiri di gereja tua ini?” Melati hanya terdiam menyadari
pertanyaannya yang tanpa jawaban atau mungkin menjadi jawaban dari pertanyaan
itu. Bahwa keharuman melati memang hanya untuk Tuhan sendiri. Tidak perlu
disaksikan banyak orang. Ya, suatu keharuman yang tersembunyi untuk
indera-indera fana, tapi begitu semerbk
di hadapan keagungan ilahi. Biarlah ia sendiri bersama Tuhan saat semua orang pergi
meninggalkan-Nya. Menemani Tuhan sama seperti beberapa perempuan dalam Injil pada saat-saat terakhir kehidupan-Nya sebagai manusia di kayu Salib.
Lama
Melati tertunduk dalam diam. Hingga ia dikejutkan oleh bunyi “cekliiik!!!” gagang pintu sakristi yang dibuka Pak Simon, koster paroki. Melati segera membuka
mata mengakhiri
keheningannya dan berdiri. Ia melangkah pulang dengan
hati bertabur sukacita tak terkira.
Sukacita atas kesempatan sendiri bersama
Tuhan meskipun tak begitu lama, mengungkapkan isi hati di hadapan Tuhan tanpa takut akan ada yang menguping atau menyadap. Mengungkapkan pertanyaan yang adalah
jawaban bagi dirinya sendiri.
***

Komentar
Posting Komentar