Langsung ke konten utama

Postingan

Cerita Dongeng Manggarai Timur, Mbo' Ete

MBO’ ETE             Teringat sepotong dongeng (tombo nengon) masa kecil yang sangat menarik tentang Mbo’ Ete (Nenek Ete) . Terjemahan dalam bahasa Indonesianya kira-kira seperti berikut: “Pada zaman dahulu hiduplah seorang nenek bernama Ete (Mbo’ Ete). Ia hidup sendirian dan hanya ditemani dua ekor anjing [1] kesayangannya. Pada suatu hari ia mendapat undangan dari Mbunga dan Ndilan untuk mengikuti acara ‘rebo’ anak’ mereka (pemberian nama seorang anak) yang juga merupakan cucunya. Mbunga dan Ndilan tinggal di langit. Konon, kala itu jarak antara langit dan bumi masih sangat dekat. Buktinya sampai sekarang ‘betong’ (pohon bambu) melengkungkan pucuknya ke bawah karena tidak bisa lagi bertumbuh ke atas. ‘Doong le langit’ (pertumbuhannya tertahan oleh langit). Langit dan bumi hanya dihubungkan oleh ‘wase azo’’ (sejenis pohon bertali di hutan). Sampai pada hari yang ditentukan, pergilah Mbo’ Ete ke lagit ditemani kedua ekor ...

Cerpen lagi ah,,,

MELATI Jalan di depan pintu gereja terlihat sepi. Tidak ada lagi beberapa lelaki yang biasa kongko-kongko sambil mengobrol ringan atau sekadar menghabiskan sebatang rokok sebelum mengikuti misa hari Minggu itu. Melati terus melangkah mendekati pintu utama. Dari dalam gereja juga tak terdengar suara. Sunyi, entah benar-benar tidak ada suara karena semua umat sedang hening mendengarkan romo atau belum ada umat yang hadir. Ia melirik pergelangan tangan kirinya. “Ya,,, arlojiku lupa lagi” sesal Melati sambil tangannya langsung saja meraih gagang pintu . Ia  memutarnya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik yang mungkin mengganggu kekhusukan di dalam gereja. “Demikianlah Injil Tuhan…” “Terpujilah Kristuuu…s” terdengar suara pastor paroki disusul jawaban umat sahut-menyahut. Suara itu seakan men ghen entak menyambut Melati yang baru saja membuat tanda Salib tepat di bawah palang pintu utama Gereja St. Kristoforus . “Ya ampun, aku sudah sangat terlambat!” kel...

Sinopsis film DES HOMMES ET DES DIEUX dari ilmu Metafisika

DES HOMMES ET DES DIEUX “Aku” di Pinggiran Eksistensi Pengantar “Bagaimana kau tahu kau sedang jatuh cinta?” “Itu dalam dirimu yang menjadi hidup karena kehadiran seseorang. Ia tidak bisa ditutupi dan membuat jantungmu berdetak kencang. Itu adalah daya tarik, keinginan, itu sangat indah. Tidak ada gunanya bertanya terlalu banyak, itu terjadi begitu saja. Semua seperti biasanya, lalu tiba-tiba kegembiraan datang, atau sebuah pengharapan.” Cinta memang sesuatu yang indah. Dari padanya datang kegembiraan dan pengharapan. Sepenggal dialog singkat di atas merupakan petikan percakapan Bruder Luke dengan seorang gadis Palestina yang sedang gundah hati karena pengalaman cintanya. Rupanya cinta itu juga tidak hanya membawa kebahagiaan, tetapi juga kegundahan, pertanyaan, dan kebimbangan karena harus memilih. “Pernah jatuh cinta?” “Beberapa kali, dan aku merasakan cinta yang lain, bahkan yang lebih besar. Dan aku menjawab cinta itu. Sudah cukup lama. Lebih dari enam puluh tahun...

BANGA

Suatu senja di halaman kampung sulit. Ditemani kopi hangat dan sepiring ubi rebus kami menikmati semilir sejuk senja itu dengan obrolan santai di depan rumah. Perhatian kami seakan ditarik oleh tingkah sekelompok anak yang sedang asyik bermain di halaman kampung. Ada pekik seru gembira, umpat mengumpat, berseloroh, dan perdebatan kecil. Mereka sedang bermain memperebutkan seonggok biji kemiri yang berjajar dari tengah garis bundar di atas debu. Banga’, suatu jenis permainan khas anak-anak kampung. Permainan klasik yang memuat beribu bahasa kebijaksanaan hidup. Ada kreativitas, persaingan, perjuangan, sportivitas, dan kerja sama. Mula-mula setiap anggota mengumpulkan biji-biji kemiri ke tengah lingkaran, masing-masing sesuai dengan jumlah yang telah disepakati bersama. Permainan dilanjutkan dengan persaingan melempari kemiri-kemiri di tengah lingkaran menggunakan satu biji kemiri yang disebut “nde’n” (induk). Masing-masing anggota hanya berhak melakukan sekali lemparan yang dimulai ...

GALAU

di ujung sepi ini kau menghantuiku mengikutiku hingga peti mati      Indah...      kau jarah kebebasanku      kau renggut bahagiaku      kau hempas pastiku      ke jurang dilema indah... kau butakan binar tatapku kau robek peka jangatku jernih akalku kau lumpur keruh sungguhkah itu dirimu???

PADA SEBUAH TIMBA

Perigi ini mahligaiku kepala berpayung mentari kaki beralas maut      membuai menggelantung      tertawa menangis pada timba ini      menari aku di liuk temali hingga sumur bergetar gelora meluap air dari perut dalam temaliku meliuk lentur       jerit aku menahan takut       hardik aku melepas gentar maut tak beranjak kaku aku di pinggir timba        ada malaikat kecil berparas rembulan mengulur tangan        menarik timba menghempasku ke surga  

TANYA

mataku perih terkadang melihat indah itu telingaku pekak mendengar indah itu     lidahku kelu     kulitku mati     tak kuasa kubernafas     di mata indah itu ah, sebenarnya aku hanya sedang bingung entahkah itu semu atau nyata entah asli atau palsu     esensial     artifisial     halusinasi     mimpi??? INDAH kau buatku bertanya     

BAHAGIA

Saat ia datang binar bola mata menyuarakan suka     saat ia terrenggut     sembab mengering     air mata lara apa itu bahagia? derita di balik serakah? entah.....

DIAM

Kini diam itu bersuara tapi bukan dengan lidah yang tak tahu apa kata hati         kini diam itu menjerit         bukan dengan kata         yang tak mengerti         bisik suara jiwa diam, menjerit dalam derita meratap dalam nestapa berbahasa dalam realita bukan logika manusia

INDAHMU ANONIM

           Menggantung rindu di lembut buibirmu Menuai tawa di hitam rambutmu tuk selamanya memeluk harum indah tubuhmu, Kaukah Dewi Cinta?          cukup sekali saja lagi          bisakah kau kembali?          biar kuungkap rasa ini          dari bisik nada seserpih jiwa          di kelana cinta ingin kupanggil namamu mungkinkah? indah dirimu  getarkan lunglai langkhku binarkam sayu tatapku         apa harus kubuang senyum ini          tuk simpan teduh bibirmu         di serak nafasku? kau adalah keindahan di kering tawaku bidadari di khayangan khayalku malaikat di lelap mimpiku        Indah....        kau terlalu jauh di dekatku        terlalu benderang di te...