Langsung ke konten utama

Postingan

Rohani

“CANGKIR KOPI” ALLAH Tuhan datang kepadanya dan menjadi hamba; Sabda datang kepadanya dan membisu dalam rahimnya Petir datang kepadanya dan tidak bersuara Sang gembala datang kepadanya menjadi domba yang menangis tanpa bersuara. Sebab rahim Maria membalikkan peranan-peranan. Pencipta segala sesuatu masuk kaya, tetapi lahir miskin. Sang Maha Agung masuk ke dalamnya, tetap dengan rendah hati. Cahaya masuk ke dalamnya, namun dibungkus lampin hina. Dia yang memberi makan segala sesuatu, mengenal rasa lapar. Dia yang memuaskan segala dahaga, mengenal kehausan. Telanjang dan tak berdaya, Ia lahir daripadanya. Ia yang mendandani segala sesuatu. Himne de Nativitate 11: 6-8, St. Efrem dari Syria.             Maria itu ibarat secangkir kopi. Cangkirnya, bukan kopinya. Ia layaknya sebentuk cangkir putih polos, cantik, indah, lagi antik.Saking antiknya, ia tidak pernah sembarang dipamerkan ...

100 malam

1000 Malam Seribu malam sudah, bahkan lebih. Awalnya,,,, kau begitu hangat mendekap kalbu, begitu dekat, erat kudekap hadirmu bahagiakanku, banggakanku dalam tawa,,, karena kau kupunya Seribu malam sudah, bahkan lebih. Rasa-rasanya bosan juga dengan putihmu seakan puas aku dalam jenuh lelah dan lemasku Hangatmu jadi gerahku di terik siang jalan ini lembutmu jadi perihku di lumur bening butir keringat ini Itukah kau? Seribu malam sudah, bahkan lebih juga hangatmu nyenyakkanku dalam lelap statusquo nyaman dalam dekap kemapanan senang juga aku punyamu… Itukah kau? ah,,, entah sampai kapan jalan ini akan berujung sempurna Mencapai titik finish pilihan diri… Setidaknya kau beriku satu kesempatan : menata diri dalam refleksi tuk terus menyusur jejak Sang ilahi

suatu senja......

     Ponsa, suatu senja      kala mendung merundung      menanti hujan tak kunjung turun... dan kau sang kabut, di manakah embunmu? tidurkah gunturmu? Hingga aku letih setengah mati mengejar jejak sang mentari……? dan kau sang kabut, di manakah embunmu? tidurkah gunturmu? Hingga aku letih setengah mati mengejar jejak sang mentari……? Ah,,, setidaknya di balik senjamu terrundung mendung kubisa merenung menung memetik makna pada deduri kering tuk mengecup sekuncup harum

IKRAR KEHIDUPAN

    Aku milikmu kematian Kuharap kaupun begitu Selama aku ada Aku belahan jiwamu Kau separuh ragaku      Saat kelahiranku      Kau menyuntingku      Hingga menikahiku      Saat maut menjemput Kau kekasihku Selalu buatku bertanya Akan datang dan pergimu Akan belai lembut dan lalimmu      Menanti datangmu      Adalah setiap detik eksistensiku      Izinkanku matang bersiap      Menuju nikah abadi kita

Cerita Dongeng Manggarai Timur, Mbo' Ete

MBO’ ETE             Teringat sepotong dongeng (tombo nengon) masa kecil yang sangat menarik tentang Mbo’ Ete (Nenek Ete) . Terjemahan dalam bahasa Indonesianya kira-kira seperti berikut: “Pada zaman dahulu hiduplah seorang nenek bernama Ete (Mbo’ Ete). Ia hidup sendirian dan hanya ditemani dua ekor anjing [1] kesayangannya. Pada suatu hari ia mendapat undangan dari Mbunga dan Ndilan untuk mengikuti acara ‘rebo’ anak’ mereka (pemberian nama seorang anak) yang juga merupakan cucunya. Mbunga dan Ndilan tinggal di langit. Konon, kala itu jarak antara langit dan bumi masih sangat dekat. Buktinya sampai sekarang ‘betong’ (pohon bambu) melengkungkan pucuknya ke bawah karena tidak bisa lagi bertumbuh ke atas. ‘Doong le langit’ (pertumbuhannya tertahan oleh langit). Langit dan bumi hanya dihubungkan oleh ‘wase azo’’ (sejenis pohon bertali di hutan). Sampai pada hari yang ditentukan, pergilah Mbo’ Ete ke lagit ditemani kedua ekor ...

Cerpen lagi ah,,,

MELATI Jalan di depan pintu gereja terlihat sepi. Tidak ada lagi beberapa lelaki yang biasa kongko-kongko sambil mengobrol ringan atau sekadar menghabiskan sebatang rokok sebelum mengikuti misa hari Minggu itu. Melati terus melangkah mendekati pintu utama. Dari dalam gereja juga tak terdengar suara. Sunyi, entah benar-benar tidak ada suara karena semua umat sedang hening mendengarkan romo atau belum ada umat yang hadir. Ia melirik pergelangan tangan kirinya. “Ya,,, arlojiku lupa lagi” sesal Melati sambil tangannya langsung saja meraih gagang pintu . Ia  memutarnya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik yang mungkin mengganggu kekhusukan di dalam gereja. “Demikianlah Injil Tuhan…” “Terpujilah Kristuuu…s” terdengar suara pastor paroki disusul jawaban umat sahut-menyahut. Suara itu seakan men ghen entak menyambut Melati yang baru saja membuat tanda Salib tepat di bawah palang pintu utama Gereja St. Kristoforus . “Ya ampun, aku sudah sangat terlambat!” kel...

Sinopsis film DES HOMMES ET DES DIEUX dari ilmu Metafisika

DES HOMMES ET DES DIEUX “Aku” di Pinggiran Eksistensi Pengantar “Bagaimana kau tahu kau sedang jatuh cinta?” “Itu dalam dirimu yang menjadi hidup karena kehadiran seseorang. Ia tidak bisa ditutupi dan membuat jantungmu berdetak kencang. Itu adalah daya tarik, keinginan, itu sangat indah. Tidak ada gunanya bertanya terlalu banyak, itu terjadi begitu saja. Semua seperti biasanya, lalu tiba-tiba kegembiraan datang, atau sebuah pengharapan.” Cinta memang sesuatu yang indah. Dari padanya datang kegembiraan dan pengharapan. Sepenggal dialog singkat di atas merupakan petikan percakapan Bruder Luke dengan seorang gadis Palestina yang sedang gundah hati karena pengalaman cintanya. Rupanya cinta itu juga tidak hanya membawa kebahagiaan, tetapi juga kegundahan, pertanyaan, dan kebimbangan karena harus memilih. “Pernah jatuh cinta?” “Beberapa kali, dan aku merasakan cinta yang lain, bahkan yang lebih besar. Dan aku menjawab cinta itu. Sudah cukup lama. Lebih dari enam puluh tahun...